LINIKATA.COM, REMBANG – Di sebuah ruang tengah yang tampak sederhana di Museum RA Kartini, berdiri sebuah meja kayu yang bagi sebagian orang mungkin tak lebih dari perabot biasa. Namun, di balik permukaannya yang tenang, tersimpan kisah hangat tentang kebersamaan, nilai keluarga, dan pemikiran mendalam dari Raden Ajeng Kartini.
Tradisi Teh Kapulaga Sore Hari di Rembang
Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, menuturkan bahwa setiap benda di museum tersebut memiliki cerita unik. Salah satunya adalah meja di ruang keluarga yang kerap luput dari perhatian pengunjung.
“Mungkin bagi sebagian orang terlihat seperti meja biasa, tetapi di situ juga mengandung makna bahwa di meja tersebut keluarga Joyodiningrat sendiri ternyata kalau berkumpul bukan di waktu malam atau pagi,” jelas Retna, Senin (20/4/2026).
Baca juga: Lestari Moerdijat dan Menteri PPA Peringati Hari Kartini di Rembang
Ia menjelaskan, momen kebersamaan keluarga Kartini berlangsung pada sore hari. Setelah Raden Adipati Joyodiningrat menyelesaikan pekerjaannya dan membersihkan diri, mereka akan berkumpul di meja tersebut sambil menikmati teh.
“Sore setelah Pak Joyodiningrat ini selesai bekerja dan mandi, sekitar jam 16.00 WIB beliau duduk bareng dengan RA Kartini sambil minum teh,” terangnya di lingkungan Museum Kartini Rembang.
Menariknya, tradisi minum teh tersebut merupakan pengaruh budaya Belanda yang diberi sentuhan lokal dengan menambahkan kapulaga ke dalam seduhan. Rempah tersebut kemungkinan besar didapat dari apotek hidup yang ditanam di pekarangan rumah dinas Bupati Rembang kala itu.
Estetika Kursi Pandawa Lima dan Kresna
Lebih dari sekadar tempat berkumpul, meja tersebut mencerminkan sisi estetika dan filosofi Kartini. Perempuan yang akrab disapa Nana ini menyebut, meja itu didesain langsung oleh Kartini dengan detail sarat makna. Terdapat enam kursi di sekelilingnya, di mana lima kursi dihiasi tokoh wayang Pandawa Lima, sementara satu kursi lainnya menampilkan sosok Kresna.
“Pandawa Lima itu melambangkan keluarga yang solid. Kartini ingin menunjukkan bahwa keluarga harus kuat dan bersatu,” jelas Retna. Sementara kehadiran Kresna, tokoh bijaksana sebagai penengah konflik, menjadi simbol kebijaksanaan dan keberpihakan pada kebenaran.
Baca juga: Peringatan Hari Kartini di Kudus jadi Momentum Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045
Bagi Nana, keberadaan meja ini adalah representasi pemikiran Kartini yang jauh melampaui zamannya. Ia melihat bagaimana tokoh emansipasi itu menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam ruang domestik di Kabupaten Rembang.
“Dari hal sederhana seperti meja dan kursi, kita bisa melihat bagaimana Kartini memaknai keluarga, kebersamaan, dan filosofi hidup. Itu yang kadang tidak disadari oleh pengunjung,” ujarnya.
Di momen peringatan Hari Kartini, kisah tentang meja ini menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan tidak hanya hidup dalam buku dan pidato, tetapi juga dalam detail keseharian yang sarat makna.
Editor: Ahmad Muhlisin















