LINIKATA.COM, DEMAK – Empat hari telah berlalu sejak tanggul Sungai Tuntang jebol dan meluluhlantakkan pemukiman. Kini, warga Dusun Slondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, mulai melangkah di atas sisa-sisa kehancuran. Pada Senin (6/4), pemandangan pilu masih menyelimuti dusun tersebut; material bangunan berserakan di sela-sela endapan lumpur pekat setinggi lutut orang dewasa.
Bencana yang bermula pada Jumat pekan lalu itu menyisakan duka yang mendalam. Berdasarkan data sementara, tercatat sedikitnya 12 rumah hanyut tersapu arus, sementara 7 rumah mengalami rusak berat dan 9 lainnya rusak sedang.
Warga yang sebelumnya bertahan di pengungsian madrasah kini mulai kembali ke tapak rumah mereka masing-masing. Berbekal peralatan seadanya, mereka mencoba mendirikan kembali tempat bernaung dari kayu-kayu bekas yang berhasil diselamatkan.
Baca juga: Jalan Alternatif Demak-Grobogan Putus Total Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol
Tak hanya itu, jemari warga tampak telaten mengaduk lumpur sedalam setengah meter. Mereka masih menaruh harap dapat menemukan kembali harta benda atau surat-surat berharga yang tertimbun material.
Ansori, salah satu penyintas yang rumahnya rata dengan tanah, menceritakan betapa cepatnya bencana itu merenggut segalanya. Selain tempat tinggal, dokumen-dokumen vital seperti BPKB dan sertifikat tanah miliknya kini raib entah ke mana.
“Rumah saya hancur total, Mas. Saat ini saya mengungsi di madrasah bersama empat KK lainnya. Barang-barang hilang semua, termasuk surat tanah dan BPKB. Tetangga saya malah ada yang kehilangan uang tunai dan perhiasannya,” tutur Ansori lirih.
Ia sangat berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan renovasi fisik bangunan, tetapi juga memberikan dispensasi serta kemudahan dalam pengurusan kembali dokumen-dokumen negara yang hilang akibat bencana.
Penderitaan warga tidak berhenti pada hilangnya tempat tinggal. Sebagai masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor peternakan, hilangnya puluhan ekor ternak yang terseret arus menjadi pukulan ekonomi yang telak.
Bagi mereka yang berhasil menyelamatkan hewan ternaknya, tantangan baru muncul: kelangkaan pakan. Lahan rumput yang biasa menjadi sumber pangan kini masih terendam air dan tertutup sedimen lumpur. Lukman, seorang peternak setempat, terpaksa memutar otak agar hewan ternaknya tetap bertahan hidup.
“Cari rumput sekarang sangat sulit karena masih banjir. Jadi, saya beri makan seadanya, pakai kangkung yang ada. Alhamdulillah ternak saya aman, padahal banyak kambing tetangga yang hilang hanyut,” kata Lukman.
Baca juga: Tanggul Sungai Tuntang Jebol: 13 Ribu Warga Demak Terdampak, Bantuan Masih Minim
Meski duka masih menyelimuti Slondoko, kabar baik datang dari tren penurunan debit air. Banjir yang awalnya merendam 10 desa di 4 kecamatan akibat jebolnya tiga titik tanggul Sungai Tuntang tersebut kini mulai berangsur surut.
Data terbaru dari BPBD Demak menunjukkan bahwa genangan air kini tersisa di 3 desa dengan ketinggian antara 30 hingga 50 sentimeter. Seiring dengan surutnya air, jumlah pengungsi pun menurun drastis. Saat ini, hanya tersisa puluhan warga Dusun Slondoko yang masih bertahan di madrasah maupun di rumah kerabat terdekat. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















