LINIKATA.COM, REMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang menyoroti munculnya fenomena komunitas gay atau Lelaki Seks Lelaki (LSL) di wilayahnya. Mayoritas anggota komunitas ini didominasi oleh anak-anak muda berusia 20 hingga 30 tahun.
Kepala Dinkes Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i, menyatakan kelompok LSL menjadi salah satu penentu peta penyebaran virus HIV/AIDS di Rembang berdasarkan hasil survei epidemiologi. Pihaknya kini telah memetakan dan merangkul komunitas tersebut guna melakukan pembinaan kesehatan secara intensif.
“Fokus kami adalah pembinaan. Karena pembinaan ini tujuannya adalah mereka mau untuk memeriksakan status HIVnya di kelompok komunitas ini,” kata Ali Syofi’i kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).
Ali menjelaskan, deteksi dini sangat krusial agar mata rantai penularan bisa segera diputus.
“Begitu mereka tahu status HIVnya, kemudian mereka ternyata HIV positif, ya kemudian kita bisa mengobati sedini mungkin dan berikutnya juga dalam rangka memutus mata rantai penularan,” jelasnya.
Baca juga: DPRD Rembang Desak Seleksi JPTP Digelar Akhir 2026, Tolak Tunggu 2027
Tren HIV Bergeser ke Usia Muda
Dinkes mencatat terjadi pergeseran tren usia penderita HIV/AIDS di Rembang dalam kurun dua hingga tiga tahun terakhir. Jika sepuluh tahun lalu mayoritas penderita berada di usia 25 tahun ke atas, kini kasus baru mulai menyasar anak muda di bawah usia 25 tahun.
Pada tahun 2025, ditemukan 18 kasus baru pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Sementara pada tahun 2026 ini, tercatat sudah ada 5 kasus yang ditemukan. Secara persentase, kelompok usia muda ini menyumbang sekitar 12 hingga 13 persen dari total penemuan kasus tahunan.
Melihat angka ini, Dinkes menarik kesimpulan bahwa penularan pertama diduga terjadi saat para penderita masih duduk di bangku sekolah. Hal ini mengacu pada masa inkubasi virus HIV yang memakan waktu cukup lama.
“Masa inkubasi AIDS ini, HIV ini cukup panjang, mungkin 5 sampai 10 tahun. Sehingga kita berasumsi kalau mereka ketahuan positif di usia sekitar 22, 23 tahun itu, maka berarti mereka telah tertular 5 atau 10 tahun sebelumnya. Artinya pada saat usia sekolah,” bebernya.
Dipicu Medsos dan Ikut-ikutan
Berdasarkan pantauan Dinkes, komunitas LSL di Rembang ini cukup aktif bahkan bisa mengumpulkan hingga 50 orang dalam sebuah acara (event) khusus.
Ali menilai, faktor psikologis dan lingkungan digital menjadi pemicu utama menjamurnya komunitas ini di kalangan anak muda. Kurangnya kematangan jiwa membuat mereka mudah meniru perilaku yang menyimpang.
“Saya lihat kok mereka mungkin terpengaruh di pergaulan, karena medsos, karena tingkat kematangan jiwa mereka yang masih kurang sehingga mereka ada perilaku ingin meniru kebiasaan (behavior) yang tidak baik,” urainya.
Akibatnya, interaksi di media sosial menyeret mereka masuk ke dalam lingkaran tersebut. “Mereka masuk ke komunitas itu sehingga akhirnya mereka dalam tanda kutip seperti tertular perilaku itu. Tidak tertular penyakit (langsung), tapi tertular perilakunya,” tambahnya.
Baca juga: Bupati Rembang Akui Sudah Tanda Tangani SK Pemecatan 2 ASN Mesum di Musala
Dinkes Bakal Sasar Sekolah
Mengantisipasi penularan yang diduga dimulai sejak usia remaja, Dinkes Rembang kini menyiapkan langkah preventif dengan memperketat pengawasan dan edukasi di sektor pendidikan.
Pihaknya berencana menggelar sosialisasi berskala besar mengenai bahaya HIV/AIDS dengan target utama sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di seluruh wilayah Rembang.
“Kita sedang rencanakan bahwa kami akan melaksanakan sosialisasi HIV/AIDS untuk usia-usia sekolah, terutama sekolah lanjutan atas. Sehingga anak-anak didik kita ini tahu terkait dengan penyakit HIV/AIDS ini dan kemudian ada kesadaran untuk bagaimana bisa mencegah,” pungkasnya. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin














