LINIKATA.COM, PATI – Kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Pati menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hingga Juli tahun ini, tercatat sudah ada 9 kasus. Jumlah tersebut membayangi angka tahun lalu sebanyak 13 kasus.
Plt Bupati Risma Ardhi Chandra menegaskan bahwa tingginya angka kematian ini menjadi persoalan serius yang harus segera diintervensi.
”Angka kematian ibu di Kabupaten Pati masih menjadi perhatian serius. Tahun lalu tercatat 13 kasus, dan hingga Juli tahun ini sudah mencapai 9 kasus,” kata Chandra saat ditemui di Pendopo Kabupaten, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: Tekan Kecelakaan Pelajar, Organda Dukung Angkutan Sekolah Gratis di Pati
Menanggapi tingginya kematian tersebut, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah pencegahan dengan meluncurkan sistem pemantauan digital bertajuk Tempayan Bu Harti (Sistem Pemantauan dan Pelayanan Ibu Hamil Risiko Tinggi).
Melalui inovasi berbasis aplikasi ini, pemantauan terhadap ibu hamil berisiko tinggi (risti) dilakukan secara ketat dan real-time agar potensi komplikasi dapat dideteksi sejak dini sebelum berakibat fatal.
”Melalui Tempayan Bu Harti, saya berharap seluruh pihak dapat bersama-sama memantau ibu hamil risiko tinggi agar angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” tegas Chandra.
Baca juga: Miris, Puluhan Ton Limbah Tapioka-Sampah Penuhi Pantai Bulumanis Kidul Pati
Chandra pun mewajibkan seluruh tenaga kesehatan untuk disiplin dalam menginput data kehamilan secara akurat. Langkah cegah-tangkal ini diharapkan mempercepat pengambilan keputusan medis bagi ibu hamil yang membutuhkan rujukan atau penanganan khusus.
Sebagai bentuk optimalisasi pelayanan di lapangan, pemerintah daerah juga memfasilitasi masyarakat melalui inovasi layanan kesehatan sore dan malam di Puskesmas, serta memperkuat edukasi rutin bagi para ibu hamil beserta keluarganya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














