LINIKATA.COM, PATI – Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menegaskan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib memprioritaskan produk dan pemasok dari pelaku UMKM serta koperasi lokal, bukan korporasi besar. Langkah ini diambil agar perputaran roda ekonomi dari program nasional tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat daerah.
“Terkait MBG, jangan mengambil supplier dari perusahaan-perusahaan besar. Dan yang harus memanfaatkan peluang ini adalah UMKM di sekitar SPPG,” tegasnya saat membuka pelatihan tata kelola koperasi baru di Aula Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pati, Senin (20/7/2026).
Baca juga: Chandra Targetkan Infrastruktur Pati Beres 2027, Jamin Proyek Bersih
Putar Ekonomi Daerah Lewat Pangan Lokal
Chandra menilai, Kabupaten Pati memiliki potensi sektor pertanian dan produk olahan pangan yang secara kualitas mampu bersaing dengan wilayah lain. Oleh karena itu, kehadiran Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) di tiap wilayah harus menjadi ekosistem yang menyerap hasil bumi lokal.
“SPPG mengambil produk-produk dari UMKM Kabupaten Pati, otomatis ekonomi akan berputar di Kabupaten Pati. Potensi pertanian lokal kita tidak kalah baik kualitasnya dengan daerah lain maupun negara lain,” ujarnya.
Baca juga: Sukses Panen Melon, Desa Tegalombo Pati Jadi Proyek Pertanian Modern
Desak Koperasi Masuk Ekosistem Digital
Di sisi lain, untuk menangkap peluang besar dari rantai pasok program MBG ini, Chandra meminta sektor koperasi di Pati tidak gagap teknologi. Transformasi ke arah digital dinilai menjadi kunci utama untuk mempermudah transaksi dan memperluas jaringan bisnis.
“Dunia digital bergerak sangat cepat. Kemudahan bertransaksi harus dimanfaatkan untuk mengembangkan koperasi agar semakin maju dan mampu bersaing,” tegasnya.
Adapun pelatihan yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM ini ditargetkan mampu meningkatkan kompetensi SDM pengurus. Dengan demikian, kelembagaan koperasi baru di Pati diharapkan dapat bertransformasi menjadi lebih profesional, adaptif, serta siap menopang program ketahanan pangan nasional di daerah. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin
















