LINIKATA.COM, PATI – Ancaman banjir rob yang terus mengepung Desa Tunggulsari, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, mengharuskan warganya untuk bisa cepat beradaptasi. Guna membangun ketangguhan yang merata, masyarakat setempat kini dibekali pemahaman Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) agar kelompok perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas tidak tertinggal dalam mitigasi bencana.
Edukasi adaptasi iklim ini dikemas dalam bentuk pelatihan intensif yang diselenggarakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) melalui program WAVE (Women Advancing in Addressing Climate Vulnerability & Livelihood Empowerment). Pelatihan yang menggandeng BPBD Pati tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 2 hingga 4 Juli 2026, bertempat di Balai Desa Tunggulsari dengan melibatkan sedikitnya 30 peserta dari berbagai elemen keterwakilan sosial.
Selama pelatihan berjalan, para peserta ditempa untuk memahami konsep dasar kesetaraan gender, hak-hak penyandang disabilitas, serta penguatan prinsip inklusi sosial yang dikorelasikan langsung dengan ancaman nyata krisis lingkungan di pesisir Utara Pati itu.
Secara teknis, materi pelatihan dibagi ke dalam tiga tahapan. Pada hari pertama, forum membedah sensitivitas iklim di pesisir Pati untuk membangun kesadaran mengenai tingkat kerentanan yang berbeda di tiap kelompok. Hari kedua dilanjutkan dengan analisis kritis pengelolaan sumber daya penghidupan agar tidak habis tergerus iklim. Sementara pada hari penutup, warga ditantang merumuskan rencana aksi adaptasi iklim yang inklusif di tingkat komunitas.
Baca juga: Bantu Korban Banjir Rob di Tayu Pati, YEU Pasok Puluhan Kasur
YEU Dampingi Empat Desa Rentan Hingga 2028
Manajer Proyek YEU Pati, Eli Sunarso, memaparkan bahwa program ini sengaja dirancang secara berkelanjutan. Selain di Desa Tunggulsari, pelatihan serupa juga dilaksanakan di tiga desa pesisir lain, yakni Desa Keboromo, Desa Banyutowo, dan Desa Tegalombo yang tersebar di wilayah Kecamatan Tayu dan Dukuhseti.
“Keempat desa tersebut merupakan desa dampingan YEU hingga 2028. Melalui pelatihan ini diharapkan tumbuh kesadaran mengenai pentingnya saling menghargai, mewujudkan kesetaraan, serta memperkuat kerja sama antara perempuan dan laki-laki dalam membangun ketangguhan desa,” jelas Eli Sunarso.
Eli juga menggarisbawahi bahwa kunci dari ketangguhan desa yang sesungguhnya terletak pada sejauh mana kelompok berisiko dilibatkan dalam rantai pengambilan kebijakan pengurangan risiko bencana.
Baca juga: Tolak Menyerah pada Krisis Iklim, Warga Pesisir Pati Belajar Usaha Baru
Buka Sudut Pandang Baru Perempuan dan Pemuda Lokal
Ikhtiar adaptasi ini disambut positif oleh Sri Wahyuni, salah satu perwakilan kelompok perempuan Tunggulsari. Menurutnya, pemahaman mengenai respons iklim berbasis gender ini memberikan cakrawala baru bagi kaum perempuan di desanya.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk warga kami. Terlebih bagi kami, perempuan-perempuan yang sebelumnya belum tahu apa itu gender dan apa itu kesetaraan. Kiranya ke depan saya dan para perempuan bisa membagikannya pada masyarakat luas,” tuturnya.
Senada dengan itu, salah satu perwakilan pemuda desa, Amiril, berharap output dari pelatihan ini bisa diresonansikan lebih luas ke seluruh lapisan masyarakat agar kesadaran kolektif dalam menghadapi banjir rob bisa terbentuk dengan kokoh.
“Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, terutama terkait perubahan iklim dan hubungannya dengan gender. Ke depan, saya berharap pengetahuan ini dapat menjangkau lebih banyak orang dan tidak terbatas hanya pada peserta pelatihan saja,” pungkas Amiril. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















