LINIKATA.COM, PATI – Lonjakan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai berdampak nyata hingga ke level pedesaan di Kabupaten Pati. Para petani lokal kini menjerit akibat harga komoditas pupuk nonsubsidi yang meroket tajam sejak beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga ini dipicu oleh ketergantungan industri pupuk dalam negeri terhadap bahan baku impor yang transaksinya menggunakan mata uang dolar AS. Apalagi nilai tukar dolar terhadap rupiah sempat menyentuh Rp18.000
Ketua Serikat Petani Pati, Kamelan, mengungkapkan bahwa harga sejumlah jenis pupuk non subsidi di pasaran mengalami kenaikan rata-rata sekitar 20 persen semenjak nilai tukar rupiah melemah secara drastis.
“Jadi memang dampak rupiah turun dan dolar naik ini membuat harga pupuk naik. Dolar naik juga dirasakan orang desa, karena bahan baku pupuk sebagian besar impor,” keluh Kamelan saat memberikan keterangan kepada media, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Harga Pupuk dan Pestisida di Pati Melejit, Petani Kelimpungan!
Rincian Lonjakan Harga Pupuk di Pasaran
Kamelan merinci, beberapa bulan lalu sebelum dolar AS melonjak, harga jual pupuk masih berada di angka normal. Namun saat ini, harga pupuk jenis ZA Plus per kantong ukuran 25 kg sudah menyentuh Rp240 ribu atau setara Rp9.600 per kg, naik dari harga semula yang hanya Rp8.000 per kg.
Selanjutnya, pupuk jenis KCL merangkak naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kg. Sementara untuk pupuk premium jenis NPK Mutiara yang awalnya berada di kisaran Rp15.000, kini melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp18.000 per kg. Adapun untuk jenis SP26 saat ini berkisar Rp9.000 per kg dan SP Bonsai menembus Rp15.000 per kg.
Menurut Kamelan, penggunaan pupuk non subsidi sebenarnya menjadi pilihan terpaksa bagi para petani di Bumi Mina Tani. Hal ini lantaran pasokan pupuk bersubsidi dari pemerintah dinilai mengalami penurunan kualitas akibat pengurangan kadar kandungan hara di dalamnya.
“Jelas pupuk yang subsidi itu kan kualitasnya kurang karena kandungannya dikurangi. Karena kualitas turun, petani yang ingin mempertahankan produktivitas hasil panen terpaksa menambah penggunaan pupuk non subsidi,” jelasnya.
Baca juga: Waspada Kemarau Panjang, Petani Pati Pilih Tanam Benih yang Panen Lebih Cepat
Ancam Produktivitas Panen Gabah
Akibat mahalnya harga di pasaran, sebagian besar petani di Kabupaten Pati kini terpaksa menyiasatinya dengan cara memangkas volume pemakaian pupuk harian mereka. Kebijakan darurat ini diakui sangat berisiko menurunkan kuantitas maupun kualitas hasil panen gabah secara massal pada musim ini.
“Otomatis berpengaruh pada hasil produksi nanti, karena asupan unsur hara untuk tanaman padi menjadi berkurang,” tambah Kamelan.
Sektor pertanian lokal pun menaruh harapan besar agar pemerintah pusat segera mengambil langkah taktis untuk mengintervensi pasar finansial demi menguatkan kembali nilai tukar rupiah ke posisi aman.
Sebagai catatan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat melemah parah hingga menembus angka Rp18.190 per satu dolar AS pada Senin (8/6/2026) lalu, sebelum akhirnya bergerak ke posisi Rp17.997 per satu dolar AS pada Kamis (11/6/2026).
“Harapannya ya memang biaya produksi bisa rendah dan harga jual gabah di tingkat petani tetap stabil. Pemerintah harus bisa mengendalikan mata uang,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















