LINIKATA.COM, PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menunjukkan keseriusan dalam melestarikan kekayaan sejarah dan budayanya yang selama ini seolah “yatim piatu”. Terbaru, langkah konkret diambil dengan menggelar pertemuan intensif bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah untuk membahas rencana pendirian Museum Cagar Budaya Kabupaten Pati, Senin (20/4/2026) sore.
Pertemuan tersebut menjadi babak baru bagi rencana panjang yang sempat tertunda. Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut langsung atas instruksi Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, guna memastikan ketersediaan sarana edukasi sejarah bagi masyarakat setempat, sekaligus sebagai wadah pemulangan artefak asli Pati yang tersebar di berbagai daerah.
Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah X, Bagus Ujianto, menyatakan bahwa pihaknya hadir untuk memberikan pendampingan total, baik dari aspek teknis maupun administratif. Hal ini penting agar museum yang berdiri nantinya tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda kuno, tetapi memenuhi regulasi standar museum nasional.
Baca juga: Bekas Kantor Satpol PP Pati Bakal Disulap Jadi Museum Cagar Budaya
“Kami memberikan rambu-rambu, mulai dari aspek administrasi hingga teknis pelaksanaan. Bagaimana nantinya koleksi akan disampaikan kepada publik, itu semua sedang kita rumuskan bersama,” ujar Bagus usai rapat koordinasi.
Jendela Sejarah dari Prasejarah hingga Masa Kini
Keberadaan museum ini dinilai sangat krusial mengingat Kabupaten Pati memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Museum ini diproyeksikan akan menampilkan potensi besar Bumi Mina Tani, mulai dari peninggalan masa prasejarah, masa klasik, hingga berbagai warisan budaya tak benda yang masih lestari hingga saat ini.
“Harapannya, ke depan Pati memiliki museum daerah yang tidak kalah dengan kabupaten lainnya. Museum ini nantinya akan menjadi jendela informasi mengenai potensi Pati, dari prasejarah hingga masa kini,” tambah Bagus.
Komitmen sinergitas antara Pemkab Pati dan BPK Wilayah X ini ditargetkan segera mewujud dalam pembangunan fisik dan tata pamer dalam waktu dekat. Museum ini diharapkan bertransformasi menjadi pusat studi kebudayaan dan destinasi wisata edukatif unggulan di Jawa Tengah.
Menarik Artefak dari Luar Daerah
Urgensi pendirian museum ini juga didasari oleh kenyataan pahit bahwa banyak artefak sejarah Pati saat ini justru berada di luar daerah. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengungkapkan peninggalan berharga Pati kini tersimpan di Yogyakarta, Kudus, hingga Museum Ronggowarsito Semarang.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menarik kembali dan mengonsolidasikan seluruh peninggalan tersebut ke lokasi yang lebih dekat dengan masyarakat asalnya. Untuk menampung benda-benda pusaka tersebut, Pemkab telah menyiapkan bekas Kantor Satpol PP di Jalan RA Kartini, tepat di belakang Kantor Bupati Pati, sebagai lokasi revitalisasi museum.
“Kantor Satpol PP ini akan kita renovasi, kita jadikan museum cagar budaya Kabupaten Pati. Karena ternyata kita masih banyak benda-benda pusaka ataupun warisan budaya Kabupaten Pati yang tersebar di berbagai tempat,” ujar Chandra saat meninjau lokasi, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: Atasi Kekeringan! Pemkab Pati Usulkan 379 Titik Pompanisasi ke Kementan
Terintegrasi dengan Kawasan Pendopo
Rencana pengembangan museum ini dipastikan tidak akan berdiri sendiri secara terisolasi. Konsep yang diusung adalah integrasi dengan kawasan Pendopo Kabupaten Pati yang selama ini sudah dikenal sebagai lokasi kegiatan outing class bagi pelajar.
Perpaduan antara Pendopo dan Museum Cagar Budaya ini akan menciptakan satu paket destinasi pembelajaran sejarah lokal yang inklusif dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Optimalisasi kawasan ini diyakini mampu mendekatkan masyarakat dengan pusat pemerintahan sekaligus memperkuat pemahaman tentang kepemimpinan daerah dari masa ke masa.
“Nanti kita letakkan di sini, sehingga masyarakat Pati, adik-adik sekolah bisa mempelajari sejarah daerahnya sendiri. Insya Allah segera kita realisasikan sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah sendiri,” pungkas Chandra.
Editor: Ahmad Muhlisin















