LINIKATA.COM, PATI – Puluhan warga Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, tampak memadati bak penampungan air dari terpal, Senin (7/9/2026). Dengan membawa jeriken, galon, hingga ember, mereka rela menunggu sejak pagi demi mengamankan pasokan air bersih.
Senyum semringah warga pun pecah saat truk tangki air yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mereka langsung beringsut mendekat, siap berebut gilir menciduk air dengan timba atau ember kecil untuk mengisi wadah-wadah yang sudah berjejer.
Bagi warga desa terpencil di Pati ini, kedatangan bantuan air bersih adalah momen yang sangat disyukuri. Sebab, sudah sebulan terakhir mereka bergantung pada uluran tangan dermawan yang tak pasti datangnya setiap hari.
Letak geografis Desa Kletek yang berjarak 30 kilometer dari pusat Kabupaten Pati ini memang membuat pasokan air sedikit terhambat. Kondisi ini diperparah oleh jalan menuju desa yang rusak parah, hingga tak jarang membuat para penyalur bantuan lebih memilih lokasi yang lebih mudah dijangkau.
Baca juga: Nestapa Desa Terluar Pati: 3 Pekan Kekeringan, Warga Kletek Cari Air Sejauh 1 Km
Krisis Air Bersih Puluhan Tahun
Salah satu warga, Siti Naimah, menjelaskan, desanya memang sudah jadi langganan krisis air bersih selama puluhan tahun. Saat tak ada bantuan datang, warga harus mencari ke desa-desa lain, sampai menggali-gali sungai dan sumur.
”Kalau kekeringan sih sudah dahulu kala, ya. Sejak saya kecil aja kalau kemarau udah seperti ini. Tapi ambil airnya di sana (desa tetangga), di sungai, gali air, gali sumur,” katanya.
Menurut Siti, kondisi geografis desanya yang berupa tanah kapur memang membuat sumur-sumur warga mengering saat kemarau. Bahkan, proses pengeboran juga tak bisa dilakukan lantaran tanahnya keras dan susah menemukan sumber air dalam.
”Kalau sumur ada, tapi kalau sumbernya ini kalau kemarau ini susah gitu loh, nggak ada airnya. Tanahnya yang dalam itu padas (kapur), tidak bisa dibor. Kedalaman paling dalam itu 10 meter,” ungkap Siti.
Bahkan, kondisi ini juga menyebabkan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sudah lama mati. Mengingat, Pamsimas yang dibangun sekitar 5 tahun lalu itu bergantung pada embung yang saat kemarau juga kering.
”Pamsimas sudah ditutup lama, sekitar lima tahunan tidak berfungsi,” kata Siti.
Menurut Siti, kekeringan tahun ini menjadi yang terparah. Kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2024 lalu. Bahkan, warga memprediksi kekeringan masih akan berlangsung lama, atau sampai sekitar November-Desember.
”Kekeringan parah itu tahun ini sama dua tahun kemarin. Kalau menurut orang-orang sih hujannya masih lama, ya, sekitar bulan 11-12,” ujar Siti.
Baca juga: Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih
Perjuangan dan Prioritas Bantuan Air
Warga lain, Anis, menambahkan, untuk menghadapi musim kemarau, setiap rumah punya belasan hingga puluhan galon. Wadah air itu nanti akan disimpan selama musim hujan.
”Saya punya 14 galon. Kalau yang keluarganya banyak, ya malah galonnya lebih banyak lagi,” beber dia.
Menurutnya, air 14 galon itu bisa untuk mencukupi kebutuhan memasak, sanitasi, mandi, cuci baju, hingga minum ternak selama dua hari saja.
”Ini untuk masak, untuk mandi, cuci baju. Paling pakai dua hari. Kalau (pasokan air) telat sehari aja sudah habis,” katanya.
Jika tak ada bantuan, warga terpaksa mencari air ke desa-desa tetangga, bahkan mengais air di sawah-sawah. Jaraknya juga cukup jauh, yakni minimal 1 kilometer.
”Kalau nggak ada bantuan ngambil di sumur-sumur di luar desa, di sawah. Jaraknya 1 kilometer,” jelas Anis.
Perwakilan Relawan Kemanusiaan Pati, Heru Sudiharto, mengaku memang memprioritaskan Desa Kletek sebagai tujuan pasokan air. Mengingat, desa yang berbatasan dengan Kabupaten Blora tersebut jarang mendapat bantuan karena aksesnya susah.
”Sudah lama mengalami kekeringan dan jarang dapat bantuan air bersih. Informasinya sudah berhari-hari tak mendapatkan bantuan air bersih. Makanya Relawan Kemanusiaan Pati memprioritaskan desa tersebut,” ungkap Heru.
Dalam kurun empat hari ini, pihaknya sudah mengirimkan bantuan air ke Desa Kletek sebanyak dua kali. Pada Jumat (5/9/2026) lalu pihaknya membawa satu truk tangki berisi 8.000 liter air, kali ini ada dua truk dengan total 16 ribu liter air.
”Semoga bisa bermanfaat karena wilayah Pati saat ini mengalami kekeringan,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














