• About
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Lini Kata
Advertisement
  • Home
  • Politik
    • Pemerintah
  • Regional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • UMKM
  • Takon Kang Deddy
  • Lini Video
  • Kriminal
    • Peristiwa
  • Wisata
    • Kuliner
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
    • Pemerintah
  • Regional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • UMKM
  • Takon Kang Deddy
  • Lini Video
  • Kriminal
    • Peristiwa
  • Wisata
    • Kuliner
No Result
View All Result
Lini Kata
No Result
View All Result
Home UMKM Ekonomi

Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

Redaksi by Redaksi
September 1, 2026
in Ekonomi
0
Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

Petani Desa Babalan, Kecamatan Wedung, Demak sedang menanen garam, Senin (1/9/2026). Foto: Linikata/LK1

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

LINIKATA.COM, DEMAK – Musim kemarau ekstrem di kawasan pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membawa dampak ganda bagi para petani tambak garam. Di satu sisi, teriknya sinar matahari memacu produksi dan meningkatkan kualitas kristal garam. Namun di sisi lain, para petani harus mengelus dada akibat anjloknya harga jual di tingkat produsen.

Kondisi tersebut terlihat di Desa Babalan, Kecamatan Wedung, yang menjadi salah satu sentra pergaraman Demak bersama Desa Kedungmutih dan Desa Kedungkarang. Tumpukan garam putih berkualitas tinggi menggunung hingga setinggi dua meter di sepanjang tepi tambak, siap diangkut oleh warga.

Salim, salah seorang petani garam Desa Babalan, mengungkapkan bahwa puncak kemarau pada Agustus 2026 ini membuat proses penguapan air tua menjadi kristal garam berlangsung jauh lebih cepat.

“Ini bisa dapat 60 karung dalam satu minggu, per karung isinya 50 kg. Dibandingkan tahun lalu, kualitas tahun ini jauh lebih bagus karena puncak kemarau,” ujar Salim pada Sabtu (21/8/2026). Dalam satu petak tambak saja, petani sanggup memanen 40 hingga 70 kilogram garam dalam waktu singkat, yakni 5 hingga 7 hari.

Baca juga: Panen Melimpah Tapi Harga Garam di Pati Anjlok, Petambak Cemas Terulang Rp375 Sekilo

Anjloknya Harga di Tingkat Produsen

Garam dari pesisir Demak ini sebenarnya telah didistribusikan ke berbagai pelosok Tanah Air, mulai dari Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Sayangnya, jangkauan pasar yang luas dan melimpahnya hasil panen tidak sejalan dengan pendapatan yang diterima petani.

Harga garam di tingkat produsen saat ini merosot hingga Rp1.000 per kilogram. Padahal, harga normal berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp2.500 per kg.

Farhan, petani yang juga berprofesi sebagai pedagang garam setempat, menyebut harga saat ini sangat berisiko bagi keberlanjutan usaha mereka. Nilai jual Rp1.000 per kg dianggap tidak sanggup menutup biaya operasional, produksi, ongkos angkut, serta tingginya harga kebutuhan pokok saat ini.

“Hasil panen melimpah, tapi harganya sangat rendah. Kami berharap ada penetapan Harga Pokok Penjualan (HPP) dari pemerintah untuk mengendalikan harga agar petani tidak dipermainkan tengkulak dan bisa hidup sejahtera,” tegas Farhan.

Baca juga: Kemarau Lebih Kering, Petambak Garam di 4 Kecamatan di Pati Mulai Panen

Bayang-Bayang Target Swasembada Garam

Di tengah keluhan petani, produksi melimpah dari wilayah pesisir seperti Demak sejatinya menjadi fondasi penting bagi target besar nasional. Pemerintah Indonesia saat ini tengah berfokus mengejar target Swasembada Garam Nasional pada 2027 guna menghentikan ketergantungan pada garam impor.

Langkah strategis ini diperkuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Melalui regulasi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendongkrak target produksi nasional secara bertahap, yakni pada tahun 2025 ditargetkan 2,25 juta ton, kemudian tahun 2026 ditargetkan 2,5 juta ton. Sementara pada tahun 2027 ditargetkan 5 juta ton (ditargetkan penuh memenuhi total kebutuhan dalam negeri).

Panen raya garam di Demak berpotensi besar menopang tercapainya target swasembada tersebut. Meski demikian, kepastian regulasi harga dan hadirnya peran aktif pemerintah di tingkat tapak tetap menjadi kunci utama agar ambisi swasembada nasional berbanding lurus dengan kesejahteraan para petaninya. (LK6)

Editor: Ahmad Muhlisin

Tags: garamHarga Garam
Previous Post

Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih

Next Post

DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

Redaksi

Redaksi

Next Post
DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

Stay Connected

  • 700 Fans
  • 1000 Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kuota Belum Terpenuhi, 7 SMP di Rembang Buka SPMB Tahap Dua

Kuota Belum Terpenuhi, 7 SMP di Rembang Buka SPMB Tahap Dua

Juni 13, 2026
Sekolah Negeri Kekurangan Murid, SMPN 2 Pamotan Ungkap Penyebabnya

Sekolah Negeri Kekurangan Murid, SMPN 2 Pamotan Ungkap Penyebabnya

Juni 15, 2026
Orang Tua Tak Perlu Bingung, Sekolah di Rembang Bakal Buka Posko Bantu Pendaftaran SPMB Online

Orang Tua Tak Perlu Bingung, Sekolah di Rembang Bakal Buka Posko Bantu Pendaftaran SPMB Online

Juni 3, 2026
Dorong Transformasi Pendidikan, Pemkab Rembang Luncurkan Educare

Dorong Transformasi Pendidikan, Pemkab Rembang Luncurkan Educare

Mei 4, 2026
​Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen

​Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen

4
Geger! Oknum Parpol hingga Ormas di Rembang Diduga Minta Jatah Proyek SD

Geger! Oknum Parpol hingga Ormas di Rembang Diduga Minta Jatah Proyek SD

3
Kejari Kudus Evaluasi Tiga Proyek Infrastruktur Dishub TA 2026

Kejari Kudus Evaluasi Tiga Proyek Infrastruktur Dishub TA 2026

2
Sampah Pasar Rembang Meluber ke Permukiman, Warga Waswas Penyakit

Sampah Pasar Rembang Meluber ke Permukiman, Warga Waswas Penyakit

2
Kecanduan Hp, Ratusan Siswa di Kudus Terdeteksi Gangguan Penglihatan

Kecanduan Hp, Ratusan Siswa di Kudus Terdeteksi Gangguan Penglihatan

September 1, 2026
DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

September 1, 2026
Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

September 1, 2026
Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih

Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih

September 1, 2026

Recent News

Kecanduan Hp, Ratusan Siswa di Kudus Terdeteksi Gangguan Penglihatan

Kecanduan Hp, Ratusan Siswa di Kudus Terdeteksi Gangguan Penglihatan

September 1, 2026
DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

DPRD Rembang Temukan Kusen Keropos di Proyek Rehab SD, Dinas Malah Jawab Begini

September 1, 2026
Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok

September 1, 2026
Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih

Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih

September 1, 2026
Lini Kata

Copyright © 2026 Linikata.com

Navigate Site

  • About
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
    • Pemerintah
  • Regional
  • Nasional
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • UMKM
  • Takon Kang Deddy
  • Lini Video
  • Kriminal
    • Peristiwa
  • Wisata
    • Kuliner

Copyright © 2026 Linikata.com