LINIKATA.COM, PATI – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati mulai melumpuhkan sektor pariwisata berbasis perairan. Sungai Silugonggo yang melintasi Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati, dilaporkan mengering total. Imbasnya, operasional wisata susur sungai Silugonggo Bestari terpaksa dihentikan sementara.
Dua unit perahu wisata yang menjadi magnet utama kawasan tersebut kini mangkrak di tepi sungai karena debit air yang terus menyusut drastis.
Ketua BUMDes Desa Sugiharjo, Sutrisno, mengungkapkan bahwa penghentian operasional perahu wisata ini telah berlangsung selama satu bulan terakhir akibat pasokan air sungai yang tidak lagi memadai.
”Kondisinya saat ini karena keterbatasan air, Sungai Silugonggo kering. Kami yang mengandalkan wisata perahu ini sudah satu bulan tidak beroperasional,” ujar Sutrisno, Kamis (20/8/2026).
Baca juga:
Omzet UMKM Anjlok hingga 70 Persen
Lumpuhnya wahana perahu wisata berdampak langsung pada tingkat kunjungan wisatawan ke kompleks Silugonggo Bestari. Sutrisno mencatat terjadi penurunan angka pengunjung yang sangat signifikan, yakni mencapai 60 hingga 70 persen. Saat ini, jumlah wisatawan yang datang tercatat kurang dari 50 orang per hari.
Kondisi sepi pengunjung ini secara otomatis memukul perekonomian para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang kuliner yang menggantungkan mata pencaharian di kawasan wisata tersebut.
”Ini sangat menghambat perekonomian di kompleks wisata Silugonggo Bestari. UMKM dan pedagang-pedagang mengalami penurunan omzet karena daya tarik utamanya berkurang akibat sungai yang mengering,” terangnya.
Baca juga:
Imbas Kemarau dan Bocornya Bendung Karet
Menurut Sutrisno, mengeringnya alur Sungai Silugonggo tidak hanya dipicu oleh intensitas hujan yang minim selama musim kemarau. Faktor utama yang memperparah kondisi ini adalah jebolnya bendung karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, beberapa waktu lalu.
Ia menilai, jika bendung karet tersebut berfungsi normal, cadangan air di sepanjang alur Sungai Silugonggo seharusnya masih mampu menopang aktivitas perahu wisata.
”Sebetulnya kalau bendungan kemarin tidak rusak atau tidak meletus, saya yakin air masih tertahan di sepanjang Sungai Silugonggo. Saat ini di beberapa titik kedalaman air paling hanya sekitar 50 sentimeter, bahkan dasarnya sudah kelihatan,” bebernya.
Menyikapi hal tersebut, Sutrisno berharap pemerintah dan instansi terkait dapat memaksimalkan perawatan serta keandalan fungsi bendung karet yang dibangun menggunakan anggaran APBN tersebut agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
”Harapan kami bendungan karet bisa bermanfaat maksimal. Jangan sedikit-sedikit kena pancing saja langsung jebol. Pembangunan dengan anggaran negara yang begitu luar biasa harusnya memberikan dampak nyata bagi masyarakat bawah,” tegasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













