LINIKATA.COM, KUDUS – Tradisi Guyang Cekathak kembali digelar di lereng Pegunungan Muria, Jumat (19/9/2026). Ritual sakral membasuh pelana kuda peninggalan Syeh Sayyid Umar Said atau yang dikenal Sunan Muria itu, melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari petani, pedagang, hingga tukang ojek setempat.
Ritual sakral yang rutin digelar setiap Jumat Wage di bulan September ini dipusatkan di Sendang Rejoso, sebagai sumber mata air yang diyakini pernah menjadi tempat berwudlu sang waliyullah itu. Selain memperingati jejak sejarah, tradisi ini dipelihara sebagai simbol permohonan doa agar hujan segera mengguyur bumi di tengah musim kemarau panjang.
Rangkaian prosesi bermula pukul 7.00 WIB di aula kantor Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM). Acara diawali dengan doa dan tahlil bersama yang dipimpin oleh pemangku adat. Sebuah cekathak (pelana kuda) berbalut kain putih disandingkan anggun di hadapan para tokoh agama, diiringi aroma khas kepulan asap kemenyan dan dupa.
Usai doa pembuka, cekathak dikirab menuju Sendang Rejoso dengan lantunan selawat dan tabuhan terbang papat. Warga yang memadati area sendang tampak antusias membawa nasi berkat untuk didoakan bersama demi meraih keberkahan (ngalap berkah) Kanjeng Sunan.
Baca juga: Kekeringan di Pati Meluas, 20 Desa di 9 Kecamatan Bergantung Bantuan Air Bersih
Prosesi Basuh Pelana dan Nasi Berkat
Setibanya di Sendang Rejoso, pelana kuda dibasuh menggunakan air sendang dan air kembang. Cekathak kemudian disandingkan dengan nasi berkat, dawet muria, bubur ketan, serta sesaji puceng. Prosesi ditutup dengan tradisi kepungan atau makan bersama beralaskan daun jati.
Dewan Pembina YM2SM, Mastur, menegaskan bahwa esensi utama Guyang Cekathak adalah mengenang jasa Sunan Muria dalam menyebarkan syiar Islam di lereng Muria.
”Sebagai pengingat untuk masyarakat, khususnya garis keturunan dari Kanjeng Sunan supaya tetap melestarikan perjuangan,” tutur pria yang akrab disapa Mbah Mastur tersebut.
Mbah Mastur menambahkan, tradisi ini juga identik dengan ritual meminta hujan melalui elemen unik berupa pelemparan cendol tawar ke atas. Cendol tawar tanpa gula maupun garam ini sekaligus berfungsi secara ekologis untuk membersihkan sumber mata air Sendang Rejoso.
Baca juga: Kekeringan Meluas, Polres Kudus Bantu 21 Ribu Liter Air ke Glagahwaru
Simbol Permohonan Hujan
”Ini simbolis, saat kemarau panjang kami berdoa supaya hujan segera turun. Namun ketika sudah musim hujan, tradisi ini tetap digelar untuk ngalap berkah,” terangnya.
Mengenai penentuan waktu, Mbah Mastur menjelaskan bahwa ritual wajib dilaksanakan pada Jumat Wage di bulan September. Jika tidak ada penanggalan tersebut, pengurus adat bakal memilih hari terdekat di akhir Agustus atau awal Oktober.
Pihak yayasan menaruh harapan besar agar generasi muda Desa Colo terus merawat warisan budaya takbenda yang sarat makna spiritual dan sosial ini. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














