LINIKATA.COM, PATI – Fenomena El Nino yang diprediksi melanda tahun ini memicu kekhawatiran terjadinya kekeringan ekstrem di Kabupaten Pati. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, tercatat sebanyak 96 desa masuk dalam kategori rawan krisis air bersih.
Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa puluhan desa tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari selatan hingga timur Bumi Mina Tani. Kecamatan yang paling diwaspadai antara lain Batangan, Juwana, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Gabus, Kayen, hingga Sukolilo.
“Meski tidak banyak, di Kecamatan Tayu dan Pati Kota juga ada desa yang berpotensi terdampak,” jelas Budi Prasetyo saat memberikan keterangan terkait pemetaan wilayah rawan bencana, Rabu (29/4/2026).
Baca juga: Waspada Kemarau Panjang, Petani Pati Pilih Tanam Benih yang Panen Lebih Cepat
Langkah Siaga dan Penyiapan Tandon Air
Guna mengantisipasi dampak kemarau panjang, BPBD Pati telah menyiagakan armada distribusi untuk keperluan dropping air bersih ke titik-titik yang membutuhkan. Selain itu, BPBD juga menyediakan sarana penunjang berupa tandon air kapasitas besar untuk dipinjamkan kepada pemerintah desa yang mengalami krisis penampungan.
“Kami menyiapkan tandon kapasitas 5.000 liter untuk dipinjamkan ke desa yang membutuhkan. Saat ini masih tersedia 10 tandon yang siap dikirimkan,” tambah Budi.
BPBD terus memantau pergerakan cuaca yang sangat dinamis. Jika memasuki pertengahan Mei intensitas hujan mulai menurun secara signifikan, pihaknya akan segera menggelar rapat koordinasi lintas sektor untuk mempercepat penanganan bencana kekeringan.
Baca juga: Harga Pupuk dan Pestisida di Pati Melejit, Petani Kelimpungan!
Petani Mulai Atur Strategi Tanam
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya. Kondisi ini mulai direspons oleh para petani di Pati dengan mengubah pola tanam. Sebagian petani memilih beralih ke varietas padi dengan umur tanam pendek untuk meminimalkan risiko gagal panen akibat kekurangan air.
“Cuaca di Pati sepertinya agak berbeda dengan kabupaten lain. Mungkin kemaraunya akan normal seperti tahun 2016 lalu, namun pemantauan ketat tetap kami lakukan,” pungkas Budi.
Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dan aktif melaporkan kondisi wilayahnya jika tanda-tanda krisis air mulai muncul di pemukiman mereka. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin















