LINIKATA.COM, KUDUS – Sosok Raden Ajeng Kartini selalu diperingati setiap tahun sebagai simbol kebebasan perempuan. Namun, di balik angka partisipasi pendidikan yang melonjak, perempuan Indonesia hari ini justru menghadapi tantangan baru yang lebih sunyi: beban psikologis berlapis atau double burden.
Paradoks Akademik dan Realitas Beban Ganda
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK), Dhini Rama Dhania, menyoroti bahwa perjuangan Kartini belum usai, melainkan telah bergeser wajah dari keterbatasan akses menjadi kompleksitas tuntutan peran.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan tren positif, di mana Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi perempuan mencapai 35,98%, melampaui laki-laki yang berada di angka 29,88%. Sayangnya, dominasi di ranah akademik ini menyimpan paradoks.
Baca juga: Sambut Hari Kartini, Santri MA NU TBS Kudus Tulis Surat untuk Ibu
Laporan International Labour Organization (ILO) 2023 mengungkapkan realitas pahit: sebanyak 79,3% perempuan mengaku mengalami beban ganda—harus profesional di kantor sekaligus memegang kendali penuh urusan domestik.
”Ini bukan sekadar persoalan sosial, melainkan persoalan psikologis yang kompleks. Perempuan menghadapi role conflict atau konflik peran yang memicu kelelahan mental,” ujar Dhini dalam pesan tertulisnya pada Senin (20/4/2026).
Fenomena ‘The Second Shift’ dan Kelelahan Mental
Lanjut Dhini, mengutip teori Arlie Hochschild, perempuan modern sering kali menjalani “The Second Shift“. Setelah selesai bekerja secara formal, mereka pulang untuk memulai “shift kedua” di rumah.
Kondisi ini memicu cognitive dissonance atau ketidaknyamanan psikologis akibat ketidaksesuaian tuntutan lingkungan dengan kapasitas internal. Dampaknya nyata, di mana perempuan karier di wilayah seperti Kudus dan kota besar lainnya sering dihantui rasa bersalah (guilt) karena dianggap kurang hadir untuk keluarga. Sementara itu, perempuan domestik kerap merasa tidak optimal dalam aktualisasi diri.
”Dalam perspektif Maslow, perempuan sebenarnya sudah mencapai tahap aktualisasi diri. Namun, tekanan sosial sering menarik mereka kembali ke level kebutuhan akan penerimaan (belongingness), sehingga terjadi tarik-menarik identitas,” tambahnya.
Tantangan Kepemimpinan dan Bias Gender
Tekanan ini tidak jarang berujung pada burnout atau keletihan emosional yang hebat. Di level kepemimpinan, tantangannya bahkan lebih berat dengan adanya double bind. Dhini menjabarkan bahwa hasil studi Harvard Business Review mengonfirmasi standar penilaian terhadap pemimpin perempuan cenderung lebih keras dan bias:
- Tegas sering dicap agresif.
- Empatik justru dianggap lemah.
Padahal, riset menunjukkan gaya kepemimpinan kolaboratif khas perempuan sangat dibutuhkan dalam organisasi modern yang dinamis. Menurutnya, esensi perjuangan Kartini di masa kini adalah mencapai otonomi—kebutuhan psikologis untuk memiliki kendali penuh atas hidup sendiri tanpa tekanan sosial yang memaksa.
”Emansipasi hari ini harus dimaknai sebagai kebebasan untuk memilih, dan yang lebih penting, bebas dari rasa bersalah atas pilihan tersebut,” tegas dosen UMK Kudus tersebut.
Baca juga: Hidupkan Semangat RA Kartini, Lestari Moerdijat Gagas Pusat Studi Perempuan di Jepara
Untuk mencapai transformasi yang lebih sehat, diperlukan kesadaran kolektif dari berbagai pihak:
- Keluarga: Pembagian peran domestik yang lebih setara.
- Organisasi: Kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).
- Masyarakat: Berhenti membebani perempuan dengan standar kesempurnaan yang kontradiktif.
Menjadi Kartini hari ini bukan tentang menjadi sempurna di semua lini, melainkan tentang keberanian untuk menjadi autentik dan menjaga kesehatan mental di tengah kepungan ekspektasi. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















