LINIKATA.COM, PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati memastikan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan berhenti selama bulan suci Ramadan. Sebagai ganti, menu MBG akan berganti menjadi makanan kering yang bisa dibawa pulang.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan, langkah ini diambil untuk memastikan gizi siswa tetap terjaga tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah puasa. Adapun menu yang diberikan akan terdiri dari paket praktis seperti roti dan susu UHT yang lebih tahan lama.
”Tatap dibagikan saat Ramadan. Pembagiannya tadi informasi dari teman-teman MBG makanan kering. Cuman tetap setiap hari dibagikan ke sekolah-sekolah,” ujar pria yang juga Ketua Satgas MBG Pati itu, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: Wabup Rembang Larang Sunat Anggaran MBG: Gizi Harus Nomor Satu!
Waktu Distribusi dan Tujuan Pemberian Makanan Kering
Terkait waktu pengiriman, Satgas MBG tetap mengikuti jadwal rutin seperti hari efektif sekolah pada umumnya, yakni di tengah hari. Pemilihan menu kering bukan tanpa alasan; makanan tersebut dimaksudkan agar bisa disimpan oleh siswa dan dikonsumsi saat waktu berbuka puasa tiba.
”Biasanya menjelang zuhur ya mereka bagikan,” lanjut Chandra.
Hingga saat ini, puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pati sudah beroperasi penuh melayani belasan ribu siswa yang tersebar di 21 kecamatan. Program ini diharapkan tetap menjadi jaring pengaman nutrisi bagi generasi muda di Kabupaten Pati meski dalam suasana Ramadan.
Status SPPG Rendole dan Hasil Uji Laboratorium
Di balik kelancaran program di berbagai titik, satu unit pelayanan yakni SPPG Margorejo atau SPPG Rendole hingga kini terpantau masih belum beroperasi. Penonaktifan sementara ini merupakan buntut dari dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa SMKN 4 Pati beberapa waktu lalu.
Pihak pemerintah daerah menegaskan tidak akan terburu-buru membuka kembali unit tersebut sebelum ada jaminan keamanan pangan yang pasti dari otoritas terkait. Chandra mengaku pihaknya masih menunggu instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN) serta hasil pemeriksaan sampel dari laboratorium di Semarang.
“(Hasil laboratorium) belum, belum dapat kita. Belum dapat laporan. (Kondisi saat ini) belum dibuka. Masih tutup nunggu hasil lab nanti,” pungkasnya.
Baca juga: 11 Bulan MBG di Rembang: 43 SPPG Sasar 104 Ribu Siswa
Pro dan Kontra dari Wali Murid
Kebijakan pembagian MBG di siang hari saat Ramadan ini ternyata menuai beragam reaksi dari masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Sebagian wali murid merasa pembagian makanan di siang hari kurang tepat secara momentum.
Hasan, salah satu wali murid, mengungkapkan ketidaksetujuannya. Ia berpendapat bahwa pembagian makanan di siang hari bisa memberikan preseden yang kurang baik bagi anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Ia menyarankan agar skema pembagian diubah menjadi sore hari atau dikonversi dalam bentuk lain.
“Kalau siang-siang dibagikan itu sama saja mengajarkan untuk tidak berpuasa. Lebih baik dibagikan sore atau dibagikan uang saja,” tandas Hasan. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













