LINIKATA.COM, REMBANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mendukung penuh percepatan pengembangan infrastruktur pelabuhan. Langkah strategis ini disiapkan untuk mengimbangi gelombang investasi raksasa dari puluhan perusahaan manufaktur baru yang bakal masuk ke Rembang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin, menegaskan pengembangan infrastruktur laut tersebut sudah sejalan dengan dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP).
Total area pelabuhan tersebut diproyeksikan mencapai luas 100 hektar. Namun, potensi besar tersebut dinilai belum tergarap optimal. Hingga kini, luasan lahan yang dikembangkan pihak investor masih sangat terbatas.
Baca juga: Bupati Rembang Ambil Kebijakan Tak Populis, Seleksi JPTP Diulang dari Nol
”Itu kan Pelabuhan Rembang itu sesuai konsepnya 100 hektar, dan itu sampai saat ini belum digarap. Yang baru digarap oleh investor itu baru sekitar 28 hektar,” kata Fahrudin saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (28/7/2026).
”Jadi kan masih kurang puluhan hektar itu. Dan itu mungkin menjadi PR bagi para investor untuk berinvestasi di Rembang terkait dengan kepelabuhanan,” lanjutnya.
Keunggulan Geografis Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke
Fahrudin menjelaskan proyek logistik laut ini difokuskan di Pelabuhan Tanjung Bonang, Kecamatan Sluke. Kawasan perairan ini diklaim memiliki keistimewaan geografis yang sangat luar biasa dan jarang dimiliki wilayah pesisir lain.
Salah satu keunggulannya adalah efisiensi pemeliharaan dermaga karena lokasinya bebas dari pengendapan lumpur. Kapal logistik berukuran besar bisa bersandar tanpa hambatan.
”Pelabuhan Rembang ini pelabuhan yang merupakan anugerah Tuhan yang memang benar luar biasa. Karena Pelabuhan Rembang ini tanpa pengerukan, kedalamannya tidak pernah ada sedimentasi,” terangnya.
”Kalau di Pelabuhan Tanjung Bonang itu tanpa dikeruk, tanpa ada pengerukan dan sebagainya, enggak ada sedimen di sana,” pungkasnya.
Baca juga: Buntut Kasus Pelabuhan Sluke, DPRD Rembang Bakal Kumpulkan Stakeholder
Magnet Investasi Industri Tekstil dan Garmen di Jalur Pantura
Kesiapan infrastruktur kepelabuhanan yang andal dan bebas sedimentasi ini menjadi sangat krusial. Pasalnya, gelombang investasi besar mulai mengalir deras ke Kabupaten Rembang.
Saat ini, konsorsium investor asal China dikabarkan berminat serius untuk mengembangkan kawasan industri tekstil dan garmen terintegrasi. Nilai investasi total memang belum diungkap ke publik, namun skalanya diproyeksikan raksasa.
Kawasan industri ini rencananya berdiri di atas lahan seluas sekitar 500 hektare. Lokasinya menempati wilayah strategis yang dikenal sebagai ‘Segitiga Emas’ Rembang-Jape-Lasem. Proyek ini disebut-sebut bakal menjadi salah satu kawasan industri manufaktur terbesar di sepanjang jalur Pantura Jawa Tengah.
Nantinya, kawasan industri terintegrasi tersebut diproyeksikan mampu menampung sekitar 50 perusahaan penunjang. Puluhan pabrik ini akan saling terhubung dalam satu rantai produksi ekosistem tekstil, mulai dari sektor hulu hingga hilir. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin














