LINIKATA.COM, PATI – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang meroket drastis membuat ribuan nelayan di Kabupaten Pati turun aksi. Mereka menggelar demonstrasi menuntut pemerintah menurunkan harga solar agar bisa kembali melaut.
Mengingat, sejak solar nonsubsidi naik pertengahan April lalu, seribuan kapal nelayan tak melaut untuk mencari ikan. Imbasnya, roda perekonomian di kampung-kampung nelayan berhenti.
Massa aksi dari berbagai penjuru Kabupaten Pati itu berduyun-duyun tiba di Alun-Alun Pati mulai pukul 08.00 WIB. Mereka membawa sound horeg hingga berbagai spanduk berisi kekecewaan nelayan.
Baca juga: Harga Solar Meroket, Ribuan Nelayan Pati Terpaksa Berhenti Melaut
Tuntutan Penyesuaian Harga Solar
Sekitar pukul 09.30 WIB, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, Ali Badrudin, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) lain menemui massa. Mereka lantas menandatangani komitmen bersama untuk menyuarakan tuntutan nelayan ke Pemerintah Pusat.
Koordinator lapangan (Korlap) demonstrasi, Muhamad Agung, mengatakan, aksi demo ini merupakan bentuk protes kepada Pemerintah Pusat yang menaikkan BBM nonsubsidi secara gila-gilaan. Padahal, selama ini mereka ikut membantu mewujudkan program Presiden Prabowo Subianto dalam ketahanan pangan.
“Kita juga membantu pemerintah dalam ketahanan pangan sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Pihaknya menuntut kenaikan solar nonsubsidi hanya dua kali lipat dari solar subsidi yakni maksimal Rp13.600. Sedangkan saat ini harga solar nonsubsidi mencapai Rp30 ribu.
“Kami minta kenaikan solar nonsubsidi naik dua kali lipat jadi Rp13.600 untuk keberlangsungan anggota nelayan bisa melaut. Saat ini kenaikan sampai Rp30 ribu,” beber dia.
Ribuan Kapal Terpaksa Berhenti Melaut
Menurutnya, sejak BBM nonsubsidi itu naik, banyak nelayan yang kelimpungan. Bahkan, saat ini hanya ada 15 persen kapal yang melaut, yang sudah mengisi BBM sebelum harga naik.
“Kapal Juwana hanya berangkat kisaran antara 15 persen, itu pun dengan BBM yang sudah kita isi lebih dulu. Kapal yang nggak melaut sekitar 1.500 sampai 1.600,” katanya.
Sedangkan untuk kapal-kapal yang sudah terlanjur melaut, kebanyakan mereka putar balik karena kehabisan solar, dan keberatan untuk mengisi di lokasi tujuan. Kondisi tersebut terpaksa mereka lakukan karena perbekalan tidak mencukupi.
“Kalau yang sudah terlanjur melaut, ini hari yang dari Papua pada pulang semua karena BBM sudah habis dan mereka sudah tidak bisa untuk kerja di laut lagi,” ujar Agung.
Ancam Demo ke Jakarta
Makanya, jika tuntutan para nelayan ini tidak dipenuhi oleh Pemerintah Pusat, para nelayan akan menggelar demonstrasi di Jakarta.
“Kami tidak mengancam tapi kita menuntut untuk Pemerintah Pusat, nanti kalau demo ini tidak terealisasi, kita akan kawal sampai ke pemerintahan pusat,” tuntasnya.
Baca juga: Harga BBM Tembus Rp27 Ribu, Ribuan Nelayan Pati Akan Demo Presiden Prabowo
Sementara itu, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mendukung upaya ribuan nelayan yang menuntut harga solar nonsubsidi turun. Sebelum ini, pihaknya juga sudah mengupayakan solusi keresahan nelayan itu ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Pati, DPRD dan yang lainnya mendukung penyesuaian harga nonsubsidi untuk kapal nelayan. Jadi harga ini adalah dua kali lipat dari harga BBM subsidi solar. Itu yang diharapkan para nelayan di Kabupaten Pati,” katanya.
Pihaknya juga sudah menandatangani komitmen bersama dan akan mengupayakan tuntutan nelayan itu ke Pemerintah Pusat. Pihaknya juga berjanji akan mengawal para nelayan menggelar aksi di Jakarta jika tuntutan tak dipenuhi.
“Siap, siap! Kita mengawal teman-teman nelayan ke Jakarta supaya aspirasinya diterima oleh Pemerintah Pusat,” tuntas Chandra.
Editor: Ahmad Muhlisin














