LINIKATA.COM, PATI – Menjelang tradisi Kupatan, para pedagang janur musiman di Pasar Juwana Baru, Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati mengaku sepi pembeli. Salah satu faktor utamanya adalah naiknya harga bahan baku pembuatan ketupat tersebut.
Salah satu penjual janur, Dasri, mengaku rutin berjualan di lokasi tersebut setiap habis Hari Raya Idulfitri. Namun, dia merasakan penjualan tahun ini tak seramai biasanya.
“Setiap Lebaran saya selalu jualan di sini. Tapi tahun ini memang agak sepi,” ujarnya saat ditemui, Kamis (26/3/2026).
Baca juga: Usai Cuti Lebaran, ASN Pemkab Kudus Diminta Tancap Gas
Di lapaknya, Dasri menjual satu ikat janur berisi 50 helai dengan harga Rp30.000 atau naik Rp10.000 dari tahun lalu sebesar Rp20.000. Sementara itu, untuk anyaman ketupat siap pakai, pedagang mematok harga Rp25.000 per 10 buah.
“Kenaikannya sampai Rp10.000 per ikat. Mau tidak mau harga jual ikut naik, tapi untungnya jadi tipis,” tambahnya.
Dasri menilai, penurunan jumlah pembeli juga disebabkan oleh faktor demografi, di mana banyak warga lokal yang sudah kembali ke perantauan setelah masa libur Lebaran, sehingga permintaan berkurang.
Keluhan senada juga disampaikan Wulandari. Meski area pasar terlihat dipadati pengunjung, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan angka penjualan janurnya.
Baca juga: 13 Desa di Pesisir Pati Bakal Gelar Sedekah Laut, Polisi Siapkan Skema Pengamanan
“Pengunjung memang banyak, tapi yang beli janur sedikit. Ini saja baru laku lima ikat. Tahun lalu lebih ramai,” ungkap Wulandari.
Meski begitu, dia berharap akan ada peningkatan pembeli dalam beberapa hari ke depan. Mengingat, Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan biasanya mencapai puncaknya pada H+7 Idulfitri. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














