LINIKATA.COM, PATI – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Pati selama tiga pekan ini tak hanya melumpuhkan perekonomian, tapi sudah sampai mengancam nyawa warga yang bertahan di tengah kepungan air. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat, ada puluhan warga yang terjangkit berbagai penyakit, mulai penyakit kulit hingga Leptospirosis.
Bahkan, khusus penyakit Leptospirosis telah menjangkiti 35 warga dan empat di antaranya meninggal. Mayoritas korban adalah warga lanjut usia (lansia) yang dinilai memiliki daya tahan tubuh lebih rendah. Mereka tersebar di Kecamatan Juwana, Jaken, Margoyoso, Trangkil, Dukuhseti, Batangan, dan Wedarijaksa.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Pati, Yanti, menjelaskan, penyebab penyakit leptospirosis adalah adanya infeksi bakteri leptospira yang ditularkan melalui air atau tanah terkontaminasi urine hewan, terutama tikus. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, kulit yang lecet, atau selaput lendir saat seseorang beraktivitas di air tercemar.
Baca juga: 3 Pekan Banjir Pati, BPBD Ungkap Penyebab Genangan Sulit Surut
“Leptospirosis menjadi penyakit yang harus diwaspadai pasca-banjir. Bakteri leptospira dapat bertahan lama di genangan air, sehingga risiko penularannya cukup tinggi,” jelas Yanti saat ditemui di kantornya, Senin (2/2/2026).
Dalam penjelasannya, gejala awal leptospirosis antara lain demam tinggi, sakit kepala, mata merah, tubuh lemas, dan nyeri hebat pada betis. Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut, ditandai dengan kulit dan mata menguning, yang berpotensi menyebabkan kematian.
“Empat pasien yang meninggal dunia diduga mengalami keterlambatan penanganan hingga kondisinya sudah berat. Gagal ginjal akut menjadi komplikasi paling berbahaya,” ungkapnya.
Menurut Yanti, yang membuat penyakit ini mengkhawatirkan adalah, bakteri leptospira mampu bertahan hidup hingga enam bulan di lingkungan lembap, bahkan lebih lama jika berada di genangan air banjir. Maka dari itu, sebagai upaya pencegahan, Dinkes Pati telah menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk menyalurkan disinfektan berupa deterjen ramah lingkungan ke wilayah terdampak banjir.
“Warga juga diminta membersihkan lantai rumah dan genangan air menggunakan deterjen guna membunuh bakteri leptospira,” imbaunya.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di genangan air, menutup luka terbuka, mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah kontak dengan air banjir, serta menjaga kebersihan lingkungan dan makanan.
Baca juga: Banjir Pati: Kerugian Petani Bawang Merah Ditaksir Tembus Rp5,4 Miliar
“Leptospirosis sebenarnya dapat dicegah dan diobati jika ditangani sejak dini,” tegas Yanti.
Karena itu, warga yang mengalami gejala demam setelah banjir diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan antibiotik.
“Kunci utama mencegah kematian akibat leptospirosis adalah kewaspadaan masyarakat dan penanganan medis sedini mungkin,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














