LINIKATA.COM, PATI – Sekitar 100 hektare tambak di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati terendam banjir, sejak Jumat (9/1/2026). Akibatnya, taksiran kerugian petambak mencapai Rp5 miliar.
Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengungkapkan, mayoritas warganya merupakan petambak dengan total lahan seluas 160 hektare. Dari luas tersebut, yang terdampak mencapai 100 hektare. Tambak-tambak tersebut untuk budi daya ikan nila salin, yang notabene komoditas unggulan Kabupaten Pati.
“Secara ekonomi lumpuh seminggu ini karena aktivitas di tambak petani tidak bisa maksimal. Mereka masih bisa memberikan waring yang itu hanya bisa dilakukan supaya ikan-ikan tidak lepas,” katanya, Minggu (18/1/2026).
Baca juga: Kerugian Akibat Bencana di Pati Ditaksir Capai Rp637,5 Miliar
Menurut Setyo, jika dikalkulasi kerugian kolektif petani tambak di Desa Tunggulsari mencapai Rp5 miliar. Mereka gagal panen ikan nila salin karena ada yang mati maupun hanyut.
“Potensi kerugian tidak sedikit, ada petani yang tinggal beberapa saat lagi panen, tapi airnya ke mana-mana. Kalau airnya penuh itu pasti kerugian makin besar karena pakan yang digunakan udah banyak sehingga kerugian makin besar ketika ikan udah dikasih makan tetapi belum bisa dipanen,” ujarnya.
Setyo menyampaikan, ikan nila salin jadi komoditas utama yang dibudidaya di Desa Tunggulsari. Sebanyak 90 persen petani tambak membudidayakan ikan nila salin, sedangkan sisanya budi daya jenis ikan lain,
“Ada komoditas lain seperti bandeng tetapi nggak sampai 10 persen karena petani di sini lebih memilih ikan nila salin karena waktu panen pendek dan harga stabil. Selain itu, udang vaname juga ada sebagai campuran di budi daya ikan nila salin,” urainya.
Baca juga: Sepekan Banjir Pati: 61 Ribu Warga Terdampak, 2 Nyawa Melayang
Sejauh ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Tunggulsari bersama dengan kelompok tani tambak melakukan normalisasi sungai desa, bahkan langkah ini sudah berlangsung pada 2023 sampai 2024. Sejumlah alat berat dan kerja manual berlangsung untuk meminimalisir banjir di Desa Tunggulsari.
“Namun, kekuatan air lebih dahsyat daripada kemampuan kita dalam menanggulangi gelombang air, akhirnya yang udah kita perbaiki jebol lagi. Dua tahun kita tanggulangi titik kritis supaya rob tidak naik ke desa tetapi tidak bisa melawan alam, artinya ini murni alam yang sudah berubah tidak seperti beberapa tahun yang lalu dampak kerusakannya,” bebernya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














