LINIKATA.COM, KUDUS – Berburu santap pagi di Kabupaten Kudus tak lengkap rasanya jika tak mencoba Lentog Tanjung. Kuliner legendaris ini sudah jadi menu sarapan khas yang yang selalu ramai peminat.
Seperti yang terlihat di pusat kuliner lentog di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati. Setiap pagi, lokasi tersebut selalu ramai oleh warga yang datang dengan sepeda motor, bahkan mobil.
Nama ‘lentog’ sendiri berarti lontong, sedangkan ‘tanjung’ diambil dari nama daerah sajian ini berasal. Yang menjadikan ciri lentog tanjung melegenda yakni pada gerobak pikul yang menjadi warisan dari para leluhur.
Baca juga: Belum Sah ke Kudus jika Belum Cicipi Sate Kerbau yang Legendaris Ini
Kuliner ini disajikan dengan alas daun pisang. Lontongnya pun berbeda dari pada umumnya, menggunakan lontong raksasa yang diiris kemudian dicampur dengan kuah sayur nangka muda dan kuah santan sayur tahu dan tempe.
Sedap gurihnya lentog semakin lengkap dengan lauk tambahan seperti sate usus, sate jeroan, sate telur puyuh, dan lainnya. Bagi pecinta pedas, sambal terasi maupun potongan cabai khas lentog juga tersaji di meja makan.
Harganya pun cukup ramah di kantong. Untuk satu porsi dilengkapi telur bacem hanya Rp10 ribu. Itu sudah cukup bikin perut kenyang untuk mengawali hari.
Tak hanya dari Kudus, pelanggan lentog juga banyak diminati warga dari berbagai daerah. Salah satunya Fian asal Pati, dia mengaku setiap melintas selalu menyempatkan untuk nikmati sajian khas satu ini untuk mengawali hari.
“Saya dari Pati kebetulan mau ada acara ke Kudus, terus mampir Lentog Tanjung Pak Di. Menurut saya rasanya enak, untuk sarapan oke lah, mantap,” ujar Fian, beberapa waktu lalu.
Hal senada juga diungkapkan Salsa, pengunjung asal Demak. Menurutnya, setiap akhir pekan ketika mengawali hari, dia menyempatkan untuk sarapan dengan kuliner khas Kudus tersebut.
“Rasanya enak, banyak pilihan lauk, serta harganya ramah di kantong,” katanya.
Baca juga: Wajib Dicoba, Kuliner Segar Ikan Laut Barakuda yang Dimasak Pindang Srani di KudusÂ
Owner Lentog Tanjung Pak Di, Muntiah mengatakan, dalam sehari dirinya mampu menghabiskan hingga 100 porsi lebih. Bahkan ketika akhir pekan bisa mencapai 300 porsi. Pelanggannya pun dari berbagai daerah yang sengaja singgah atau nostalgia dengan kuliner tersebut sesaat di kampung halaman.
“Kalau weekend bisa dobel tiga, 300an porsi bisa. Pelanggan saya yang luar kota banyak biasanya, dari Surabaya, Semarang, Jakarta,” terangnya. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















