Inti Berita:
- Wilayah: Tempat Penampungan Sementara (TPS) Desa Plosojenar, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati
- Inti berita: Kebakaran tumpukan sampah TPS Plosojenar telah berlangsung lebih dari sehari akibat hambatan medan dan cuaca
- Data kunci: Melibatkan 8 armada (Damkar Pos Pati, Kayen, Juwana) plus 5 truk suplai BPBD, dipicu pembakaran slamper tebu
LINIKATA.COM, PATI – Kebakaran Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Desa Plosojenar, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, belum berhasil dipadamkan setelah berkobar lebih dari sehari, Kamis (24/9/2026).
Petugas gabungan harus berjibaku menghadapi titik api yang masih membara di bagian timur atas sejak musibah bermula pada Rabu (23/9/2026) sekitar pukul 9.00 WIB.
Baca juga: TPS Plosojenar di Jakenan Pati Terbakar, Pemadaman Terkendala Angin Kencang
Penyebab Pemadaman Lama
Kepala Bidang (Kabid) Damkar dan Linmas Satpol PP Pati, Dwi Prasetyo, mengungkapkan bahwa proses penjinakan si jago merah terkendala kondisi lingkungan di lapangan.
“Faktornya angin kencang dan mobil tidak bisa menjangkau akses terdampak,” jelas Dwi, Kamis (24/9/2026).
Untuk pemadaman, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati telah mengerahkan total 13 kendaraan gabungan untuk menyuplai air dan melakukan pembasahan secara kontinu.
“Ada 8 armada yang dikerahkan. Mobil Damkar Pos Pati, Pos Kayen, dan Pos Juwana. Ditambah mobil suplai BPBD 5 unit. Titik api di bagian atas timur,” rinci Dwi.
Baca juga: 87 Kasus Kebakaran Landa Pati dalam 8 Bulan, Satu Warga Tewas
Dugaan Pemicu Kebakaran
Berdasarkan keterangan warga sekitar, insiden ini diduga kuat tersulut dari aktivitas pembakaran daun tebu kering (slamper) di sekitar lokasi TPS yang kemudian tersapu angin kencang.
“Informasi sementara dari warga setempat bahwasanya di sebelah TPS ada pembakaran slamper, masuk ke TPS dan TPS terbakar,” ungkapnya.
Menanggapi kejadian ini, pihak Damkar mengimbau masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah atau membuka lahan sembarangan demi mencegah meluasnya bencana di tengah musim kemarau ekstrem.
“Karena musim kemarau yang ekstrim sehingga menghidupkan api terus api cepat menyebar, apalagi membakar sampah atau slamper tebu,” pungkas Dwi. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














