LINIKATA.COM, PATI – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati yang juga menjabat Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG), Risma Ardhi Chandra, angkat bicara terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa belasan pelajar SDN Maitan 01, Kecamatan Tambakromo, Kamis (17/9/2026).
Chandra memastikan seluruh dari total 17 siswa yang sempat mengeluhkan pusing dan muntah usai mengonsumsi susu kemasan MBG telah tertangani dengan baik tanpa harus menjalani rawat inap.
“Maitan kemarin sudah kita tugaskan Dinas Kesehatan untuk mengecek ke sana. Laporannya ada sekitar 17 siswa, tapi alhamdulillah sudah bisa ditangani, sudah kembali ke rumah,” ujar Chandra.
Baca juga: Belasan Siswa SDN Maitan 2 Diduga Keracunan Susu MBG
Berdasarkan hasil penelusuran awal terhadap fisik kemasan produk, petugas mendapati tanggal kedaluwarsa susu tersebut masih cukup panjang hingga tahun 2027 mendatang.
“Memang kalau masalah susu kita cek juga kedaluwarsa masih panjang. Kedaluwarsa di tahun 2027,” jelas dia.
Kendati demikian, fisik cairan di dalam kemasan yang mengalami perubahan warna dan aroma ditengarai bukan karena masa simpan yang habis, melainkan potensi kendala pada standar operasional pengemasan pabrikan.
“Ya itu, mungkin rusak produksinya,” ucap dia.
Perketat Mitigasi dan Uji Lab
Menindaklanjuti insiden keamanan pangan tersebut, Pemkab Pati menginstruksikan jajaran terkait untuk menaikkan standar lapis pengawasan distribusi menu MBG di lapangan.
Seluruh sisa lot produk susu yang dikeluhkan warga kini telah diamankan guna menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium mikrobiologi dan kimiawi.
“Ini nanti kita mitigasi untuk lebih mengecek lagi walaupun kedaluwarsanya masih panjang harus dicek terus,” jelasnya.
“Ya, ini lab semua. Intinya kita cek terus MBG supaya aman diterima oleh masyarakat,” tandasnya.
Baca juga: Semua Korban Dugaan Keracunan MBG di Gembong Pati Sudah Sembuh
Penyelidikan Epidemiologi
Senada dengan pimpinan daerah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, memaparkan bahwa tim surveilans epidemiologi masih bekerja memetakan korelasi klinis gejala keracunan dengan konsumsi menu tersebut.
“Masih belum bisa dipastikan nggih. Tim surveilans sedang melakukan Pemeriksaan Epidemiologi (PE),” jelas Luky.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh satuan pelayanan gizi dan sekolah penerima manfaat agar tidak ragu melaporkan kelainan kualitas produk makanan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














