LINIKATA.COM, DEMAK – Dampak kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kian mengkhawatirkan hingga melumpuhkan aktivitas harian masyarakat. Mengeringnya sumur warga serta tidak berfungsinya layanan Pamsimas memicu krisis air bersih yang merata di berbagai wilayah.
Kondisi ini memaksa warga turun langsung ke dasar sungai yang telah mengering total dan tanahnya merekah. Demi mendapatkan setetes air, masyarakat terpaksa harus berpeluh keringat menggali kubangan di tengah badan sungai untuk menampung resapan air tanah.
Air yang terkumpul dari galian darurat tersebut kemudian disedot menggunakan mesin pompa dan dialirkan menggunakan pipa paralon langsung ke rumah-rumah warga sebagai tumpuan bertahan hidup.
Perjuangan berat untuk mendapatkan air bersih ini salah satunya dirasakan oleh Beruri, warga Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar. Ia mengungkapkan bahwa krisis air bersih telah melanda wilayahnya sejak akhir Juli lalu.
Ia menceritakan bahwa galian darurat di dasar saluran irigasi menjadi tumpuan harapan terakhir masyarakat setempat agar tidak benar-benar kehabisan air.
”Menggali ada yang sampai 2 meter, Pak. Kalau buat gini musim kemarau saja, kalau tidak kemarau ini penuh airnya, masalahnya ini kan saluran irigasi,” ujar Beruri saat ditemui di lokasi galian.
Meskipun kualitas air galian jauh dari kata layak, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain di tengah keterbatasan yang kian mencekik.
”Kesulitan air bersih di sini ya sejak akhir Juli. Kalau buat kubangan ini biasane buat bantu-bantuan biar tidak kehabisan untuk mandi cuci kebutuhan dasar lah, airnya ya keruh Pak tapi apa boleh buat yang penting ada airnya. Harapannya ada bantuan tangki air bersih itu,” tambah Beruri penuh harap.
Baca juga: Krisis Air Bersih di Demak Meluas: 13 Desa Terdampak Kemarau Ekstrem
Galian Darurat Wonoketingal
Kondisi yang tak kalah prihatin juga dialami oleh Sudipan, warga Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar. Di desanya, jumlah kubangan sumur darurat terus bertambah seiring makin menyusutnya debit air sumur warga dalam dua pekan terakhir.
”Kalau sini ya sekitar kurang lebih 2 minggu, sumur-sumur tidak memadahi mas, solusinya ya seperti ini buat kubangan sumur-sumuran gini,” tutur Sudipan.
Demi mengalirkan air keruh berwarna kekuningan tersebut sejauh puluhan meter hingga sampai ke rumah, Sudipan bersama warga lainnya harus mengerahkan tenaga ekstra serta merogoh kocek swadaya yang tidak sedikit.
”Ini biasanya untuk bersih-bersih mencuci pakaian, buat wudhu, buat mandi, itu kubangannya sekitar satu meter biasanya pipa paralonnya gunakan 10 batang itu 6 x 10 ya sekitar 60 meter jaraknya mas disedot sampai rumah,” jelasnya.
Bagi Sudipan dan warga sekitar, cara ini murni dilakukan atas dasar kondisi darurat. Untuk kebutuhan konsumsi, mereka terpaksa harus membeli air minum kemasan.
”Gini itu buat darurat lah daripada cari air kemana-mana kan mending buat sendiri gini. Kalau airnya ya agak kekuning-kuningan kurang jernih. Kalau untuk minum kadang ya beli,” pungkas Sudipan.
Baca juga: Antisipasi Kekeringan, Kodim Kudus Bangun Sumur Bor di 4 Desa
Data Kekeringan BPBD Demak
Sementara itu, dampak musim kemarau panjang yang melumpuhkan aktivitas warga ini terpantau terus meluas dari hari ke hari.
Berdasarkan data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, tercatat sudah ada 13 desa yang tersebar di enam kecamatan kini masuk dalam zona terdampak kekeringan.
Menanggapi situasi darurat ini, pihak BPBD Kabupaten Demak bersama instansi terkait terus berpacu dengan waktu untuk melakukan penanganan intensif.
Langkah pengiriman armada dropping air bersih secara berkala terus digencarkan untuk meringankan beban masyarakat di wilayah-wilayah yang paling parah dilanda krisis air. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin













