LINIKATA.COM, KUDUS – Sebuah paket misterius yang ditemukan di kompleks rumah pendeta Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Ploso, Kecamatan Jati, menggemparkan warga setempat dan memicu kepanikan terkait ancaman teror bom, Rabu (20/5/2026).
Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Tim Penjinak Bom (Jibom) Satuan Brimob Polda Jawa Tengah pun dikerahkan ke lokasi untuk melakukan sterilisasi dan pemeriksaan mendalam.
Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, melalui Kabag Ops, Kompol Eko Pujiono, menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) kepolisian dalam menangani benda mencurigakan.
Baca juga:
“Pada pemeriksaan awal menggunakan alat pelacak logam (metal detector), petugas tidak menemukan adanya unsur logam di dalam paket tersebut,” ungkap Eko saat ditemui di lokasi.
Tim Jibom Turun Tangan Buka Paket
Karena mencurigakan, lanjut Eko, pihaknya menghubungi tim dari Jibom untuk melakukan sterilisasi. Hal ini guna memastikan apakah barang tersebut berbahaya atau tidak. Setelah dibuka, ternyata isinya hanya sayuran dan jajanan pasar.
Setelah melihat isi paket, polisi menduga paket tersebut merupakan salah kirim dari kurir atau pihak pengirim. Selain mengamankan paket, Tim Jibom juga melakukan sterilisasi menyeluruh di area sekitar lokasi, mulai dari halaman, kamar, hingga seluruh ruangan di dalam rumah pendeta tersebut untuk memastikan area benar-benar aman.
Baca juga:
Polisi Selidiki CCTV dan Identitas Pengirim
Meski situasi telah kondusif, pihak kepolisian menegaskan tidak akan tinggal diam. Hingga saat ini, identitas pengirim paket misterius tersebut masih belum diketahui. Polisi tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.
Kompol Eko pun mengimbau masyarakat Kudus untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menanggapi peristiwa ini. Namun, ia juga menegaskan bahwa proses hukum akan tetap berjalan jika hasil penyelidikan membuktikan adanya unsur kesengajaan dari pihak tertentu untuk menyebarkan teror atau kepanikan di tengah masyarakat.
“Kami tetap melakukan penyelidikan guna membuktikan ada maupun tidak unsur kesengajaan dari pihak tertentu,” pungkas Eko. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin














