LINIKATA.COM, REMBANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang terus mendorong modernisasi sektor pertanian pada Musim Tanam Pertama (MT-1) 2026. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mengoptimalkan tujuh unit drone pertanian untuk penyemprotan pestisida, pemupukan, dan perawatan tanaman padi.
Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional sekaligus menjaga produktivitas hasil panen petani di berbagai wilayah Rembang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan drone pertanian menjadi alat baru yang dihadirkan untuk membantu petani meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan.
Baca juga: Wabup Rembang Larang Sunat Anggaran MBG: Gizi Harus Nomor Satu!
“Drone ini salah satu alat baru. Untuk pemupukan bisa, untuk pestisida bisa, untuk perawatan tanaman juga bisa,” ujarnya.
Tujuh unit drone yang dimiliki Pemkab Rembang akan melayani wilayah barat, tengah, hingga timur. Dengan jangkauan yang lebih luas, layanan penyemprotan diharapkan lebih merata dan cepat menjangkau lahan pertanian.
“Kita sudah punya tujuh unit. Nanti segera dioptimalkan untuk melayani area wilayah barat, timur, maupun tengah,” imbuh Agus.
Dibandingkan metode manual, penggunaan drone dinilai jauh lebih efisien. Selain menghemat waktu dan tenaga, cairan pestisida maupun pupuk dapat tersebar lebih merata.
“Kalau manual tentu lebih lama. Dengan drone lebih cepat. Hama yang ada di bawah tanaman juga bisa terjangkau karena ada hembusan angin dari baling-baling sehingga cairan bisa menyebar merata,” jelasnya.
Teknologi ini juga dirancang aman. Ketinggian terbang dan volume semprotan dapat disesuaikan dengan umur serta kondisi tanaman, sehingga tidak merusak batang maupun perakaran.
Sementara itu, manajemen Unit Jasa Pelayanan (UPJA) Alsintan Kabupaten Rembang, Suheriyanto Andri Wahyudi, menuturkan drone pertanian mulai digunakan di Dintanpan sejak 2025.
Sebelum diterjunkan ke sawah, calon pilot drone wajib mengikuti pelatihan khusus. Setelah dinyatakan lulus, mereka baru diperbolehkan mengoperasikan drone untuk membantu petani mengatasi serangan hama.
Tarif sewa layanan drone saat ini sebesar Rp 200 ribu per hektare. Namun terdapat tambahan biaya BBM untuk transportasi karena pengangkutan drone dan perlengkapannya menggunakan kendaraan roda tiga atau Viar.
Dari tujuh unit yang dimiliki, empat di antaranya merupakan drone merek Ferto yang diterima melalui program Petani Milenial. Drone tersebut memiliki kapasitas tangki 17 liter untuk cairan pestisida dan mampu membawa pupuk hingga 10 kilogram.
Baca juga: Pemkab Rembang Targetkan Perbaikan Jalan Rusak Rampung Sebelum Idulfitri
“Permintaan layanan drone cukup tinggi, terutama bagi petani yang mengelola lahan lebih dari satu hektare. Penyemprotan menggunakan drone sangat membantu, khususnya pada fase padi bunting tua,” katanya.
Pada Februari ini, mayoritas tanaman padi MT-1 di Rembang mulai memasuki fase keluar malai. Penyemprotan difokuskan pada pemberian nutrisi seperti MKP dan KCL cair, serta fungisida dan pestisida untuk mengendalikan hama belalang dan ulat.
Optimalisasi drone pertanian ini menjadi bagian dari transformasi pertanian berbasis teknologi di Kabupaten Rembang. Dengan sistem kerja yang lebih cepat, presisi, dan efisien, diharapkan produksi padi pada Musim Tanam Pertama 2026 dapat meningkat serta kesejahteraan petani semakin membaik. (Lk1)
Editor: Ahmad Muhlisin














