LINIKATA.COM, PATI – Sudah tiga pekan banjir melanda Kabupaten Pati dan belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Dangkalnya Sungai Silugonngo dan debit air yang masih tinggi membuat genangan di puluhan desa di sepanjang aliran sulit surut.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Jumat (30/1/2026), bannir masih merendam 45 desa di tujuh kecamatan. Rinciannya, Gabus 13 desa, Juwana 8 desa, Jakenan 7 desa, Dukuhseti 5 desa, Kayen 5 desa, Pati 4 desa, dan Sukolilo 3 desa.
Banjir tersebut merendam 2.921 rumah dengan warga terdampak sejumlah 10.939 jiwa dari 3.988 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, warga yang terpaksa mengungsi mencapai 1.060 jiwa dari 432 KK.
Baca juga: 3 Pekan Banjir Pati: 45 Desa Masih Terendam, 1.060 Warga Mengungsi
Selain permukiman, banjir juga masih merendam 3.825 hektare sawah dan 660,5 hektare tambak. Beberapa fasilitas umum juga masih terendam, yaitu jalan sepanjang 10 kilometer, 7 sekolah, 16 tempat ibadah, dan 3 fasilitas umum lain.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati, Martinus Budi Prasetyo mengungkapkan, penyebab banjir di Bumi Mina Tani sulit surut. Menurutnya, sebagian besar wilayah terdampak banjir berada di sepanjang aliran Sungai Silugonggo, sehingga surutnya banjir sangat tergantung pada debit airnya. Dengan kondisi tersebut, pihaknya juga tidak bisa melakukan pompanisasi.
Selain itu, dangkalnya Sungai Silugonggo juga menjadi penyebab banjir terus terjadi setiap tahun. Namun, pihaknya baru bisa melakukan normalisasi saat banjir sudah surut.
Baca juga: Atasi Banjir, Pemkab Pati Wacanakan Buat Sodetan 11 Km di Sungai Silugonggo
“Upaya yang bisa kita lakukan misalnya dengan pompanisasi itu baru bisa kita lakukan ketika tinggi muka air Sungai Silugonggo turun. Tetapi selama tinggi muka air Silugonggo itu masih tinggi tidak mungkin kita lakukan pemompaan,” bebernya.
Salah satu lokasi yang sudah dilakukan pemompaan air adalah Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa. Daerah tersebut tidak berada di aliran Sungai Silugonggo dan kondisi debit air di sungai desa setempat berangsur-angsur turun.
“Upaya pemompaan yang sudah kita lakukan itu di Ngurenrejo, karena memang kebetulan tangguh sungainya itu lebih tinggi dari sungai dan tinggi muka air sungainya juga turun,” pungkas Budi. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














