LINIKATA.COM, PATI – Sudah lebih dari dua pekan, warga Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, hidup dalam kepungan banjir. Akses jalan yang terputus total membuat desa ini terisolasi.
Kondisi ini memaksa tim kesehatan dari Puskesmas Jakenan melakukan aksi “jemput bola” menggunakan perahu untuk menyisir rumah-rumah warga. Bersama aparat TNI dan Polri, tim medis menerjang genangan air setinggi lebih dari satu meter.
Langkah ini diambil karena banyak warga, terutama lansia, yang mulai mengeluhkan berbagai penyakit namun enggan mengungsi ke posko kesehatan.
Baca juga: 100 Ha Tambak di Tunggulsari Pati Terendam Banjir, Kerugian Capai Rp5 M
Pemeriksaan Medis di Atas Perahu
Kondisi banjir yang mencapai dada orang dewasa membuat aktivitas warga lumpuh total. Tim kesehatan harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan perahu untuk mencapai permukiman. Uniknya, proses pemeriksaan kesehatan dilakukan langsung di atas perahu di depan teras rumah warga yang terendam.
Kusnen (60), salah satu warga Desa Karangrowo, mengaku kondisi fisiknya terus menurun akibat terpapar air banjir selama 15 hari terakhir. Meski sakit, ia memilih bertahan di rumah demi menjaga harta benda dan hewan ternaknya.
“Sudah lima belas hari terendam. Rasanya pusing, demam, gatal-gatal, kena kutu air. Airnya setinggi satu meter. Saya masih bertahan karena harus menjaga ternak,” ujar Kusnen saat ditemui di rumahnya.
Strategi Jemput Bola
Banyaknya warga yang mulai terserang demam, pusing, diare, hingga penyakit kulit menjadi alasan utama Puskesmas Jakenan turun langsung ke lapangan. Tim medis menyadari bahwa menunggu warga datang ke Puskesmas adalah hal yang sulit dalam kondisi akses jalan yang lumpuh.
Yuliati, anggota tim kesehatan Puskesmas Jakenan, menjelaskan bahwa perjuangan menembus banjir sejauh 1,5 kilometer ini adalah bagian dari tanggung jawab pelayanan darurat.
“Kami menempuh jarak sekitar satu setengah kilometer menerjang banjir. Ini menjemput bola, karena masyarakat sudah banyak yang sakit dan masih bertahan di rumah. Jadi kami datangi satu per satu, meski harus melakukan pemeriksaan di atas perahu,” jelas Yuliati.
Baca juga: Kepala BNPB Sebut Dangkalnya Sungai Silugonggo Sebabkan Banjir Kudus-Pati
Diketahui, Desa Karangrowo telah terendam banjir selama 15 hari dan terisolir karena seluruh akses jalan tergenang air setinggi satu meter. Untuk masuk ke wilayah desa, warga dan petugas harus menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
Sedikitnya 930 jiwa terdampak banjir di desa ini, dengan sekitar 200 rumah terendam dan 600 kepala keluarga terdampak. (LK3)
Editor: Ahmad Muhlisin














