LINIKATA.COM, KUDUS – Polres Kudus resmi menghentikan perkara keributan antar-pemuda, di dalam konser dangdut di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, yang sempat viral di media sosial (Medos) baru-baru ini.
Melalui mekanisme Restorative Justice (RJ), kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan, setelah kedua belah pihak sepakat melakukan mediasi.
Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, menjelaskan bahwa sesaat setelah kejadian viral tersebut, Satreskrim Polres Kudus langsung membentuk tim dan berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Japan, untuk menghadirkan para pelaku ke Mapolres Kudus.
Baca juga: Warga Jati Kudus Tega Curi Emas Tetangganya yang Mengungsi saat Banjir
‘’Setelah dilakukan interogasi dan pemeriksaan awal, pelaku dan korban kami pertemukan,’’ ungkap Heru Dwi Purnomo di Mapolres Kudus, Senin (19/1/2026).
Disinggung pemicu keributan, Heru menyebut bermula adanya kesalahpahaman antar-mereka. Mengingat para pihak masih dalam satu lingkungan desa, Kepala Desa Japan bersama pihak keluarga menginisiasi mediasi agar kondisi desa tetap harmonis dan kondusif.
’’Dilakukan mediasi, dibuat kesepakatan, dan ditandatangani bersama untuk diselesaikan secara kekeluargaan,’’ tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ibu korban, Mustikah (51), warga Desa Puyoh, memberikan klarifikasi tegas terkait isu yang beredar liar di media sosial mengenai adanya uang damai dalam jumlah besar.
‘’Berita di media itu tidak benar. Kami tidak menerima uang damai 195 juta atau 300 juta rupiah. Kami hanya menerima biaya untuk pengobatan anak saya, dan itu saya terima dengan ikhlas,’’ tegas Mustikah.
Baca juga: Pedagang Sayur Geruduk Disdag Kudus, Protes Pungutan Diluar Retribusi
Senada dengan hal tersebut, perwakilan keluarga pelaku, Nanok Jumono (46), menyatakan bahwa pihaknya hanya bertanggung jawab atas biaya medis korban sebagai bentuk itikad baik.
Kepala Desa Japan, Sigit Tri Harso, juga menyayangkan adanya hoaks yang menyebutkan nominal uang hingga ratusan juta rupiah dalam proses perdamaian ini.
“Selaku pemerintah desa, kami tegaskan berita angka-angka itu tidak benar. Fokus kami adalah penyelesaian pengobatan dan mengembalikan kerukunan warga,” pungkasnya. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin














