LINIKATA.COM, KUDUS – Kompetisi literasi bahasa Arab tingkat internasional, Arabic Reading Challenge (ARC), bakal diramaikan oleh delegasi asal Kabupaten Kudus. M. Luqman Hakim, siswa kelas 11 MA Qudsiyyah Kudus, sukses terpilih menjadi salah satu dari dua wakil Indonesia yang akan terbang ke Dubai pada Oktober mendatang.
Keberhasilan ini diraih setelah Luqman menyabet gelar Juara 2 Nasional pada babak grand final yang menggabungkan seluruh tingkatan sekolah (SD, SMP, SMA). Guru BK sekaligus pendamping lomba, Muhammad Zidni Illma Hafi, menyebutkan bahwa kompetisi yang diinisiasi oleh pemerintah Dubai ini telah bergulir sejak Maret lalu.
‘’Awalnya ada 50 peserta se-Indonesia. Mereka ditantang merangkum minimal 25 kitab tebal berbahasa Arab, seperti sirah Sayyidah Khadijah, Abu Bakar As-Siddiq, dan Imam Al-Ghazali. Hanya 18 orang yang sanggup menyelesaikannya,’’ jelas Zidni saat memberikan keterangan bersama guru pendamping lain, Muhammad Ali Mustaan, Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Daur Ulang Malam Batik Berbasis IoT, Siswa SMPN 1 Lasem Wakili Rembang ke Jateng
Tahapan Seleksi Ketat Penentuan Dua Wakil Indonesia
Setelah disaring menjadi 10 besar lintas jajaran sekolah, posisi dua besar terbaik ditentukan lewat wawancara daring langsung oleh panitia pusat dari Dubai pada Juli lalu.
Untuk menghadapi dewan juri di Dubai nanti, pihak madrasah kini menggenjot persiapan Luqman. Guru Bahasa Arab MA Qudsiyyah, Muhammad Ali Mustaan, mengungkapkan bahwa fokus utama saat ini adalah bimbingan intensif percakapan.
‘’Kami berikan jam khusus agar komunikasinya lebih hidup dan tidak kaku saat Munakosah (sidang interview) di sana nanti,’’ terangnya.
Baca juga: Ciptakan Teknologi Pantau Siswa Real Time, Siswa MA Salafiyah Pati Raih Emas Internasional
Modal Nahwu Shorof dan Pengalaman Santri Pesantren
Sementara itu, M. Luqman Hakim mengaku sempat pesimistis karena ketatnya persaingan. Namun, modal ilmu nahwu dan shorof yang ia pelajari di Pondok Pesantren Al-Maimuniyyah Langgardalem di bawah asuhan KH. Muhammad Naf’an menjadi kunci suksesnya memahami teks Arab gundul.
‘’Senang sekali bisa berkontribusi untuk madrasah. Tantangan terbesarnya adalah memahami kosakata baru dan konsistensi merangkum kitab,’’ pungkas santri yang juga pernah menembus kompetisi nasional MQK Kemenag saat jenjang MTs tersebut. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin














