LINIKATA.COM, PATI – Warga Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dibuat resah oleh aksi teror monyet liar yang meluas selama beberapa bulan terakhir. Hewan yang diduga turun dari kawasan Pegunungan Kendeng tersebut menyerang pemukiman hingga menyebabkan belasan warga terluka.
Serangan monyet liar itu menyasar berbagai kalangan, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Para korban yang menderita luka-luka akibat gigitan maupun cakaran harus dilarikan ke fasilitas medis untuk mendapatkan perawatan.
Kepala Desa Prawoto, Ahmad Hyro Fachrus, mengonfirmasi maraknya serangan satwa liar yang telah berlangsung cukup lama di wilayahnya tersebut.
Baca juga: Miris, Puluhan Ton Limbah Tapioka-Sampah Penuhi Pantai Bulumanis Kidul Pati
“Mungkin sekitar enam bulan terakhir. Sudah belasan warga (korban). Selain warga, tanaman buah hingga ternak warga juga menjadi sasaran. Kandang kambing, ayam juga sempat diserang,” terang Hyro.
Selain melukai warga, monyet tersebut kerap merusak tanaman buah milik petani serta menyerang ternak di kandang warga sekitar.
Kades Gelar Sayembara hingga Libatkan BKSDA
Pemerintah Desa Prawoto telah menempuh berbagai upaya untuk menanggulangi ancaman tersebut, termasuk menggelar sayembara berhadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkap monyet liar itu. Pihak desa juga telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pati, hingga tim pemburu.
Meski demikian, proses penangkapan terkendala oleh pergerakan satwa yang sangat cepat dan lincah saat berpindah tempat.
Baca juga: Sampai Juli, Angka Kecelakaan di Pati Capai 986 Kasus, 14 Meninggal
“Persoalannya monyet itu cepat sekali berpindah. Saat diburu tiba-tiba lari. Kemudian muncul lagi di kampung lain. Lari lagi. Ada laporan didatangi sudah keburu lari,” terang Hyro.
Hyro menambahkan, monyet liar tersebut biasanya muncul pada waktu-waktu tertentu, seperti pagi atau sore hari, meski sesekali muncul tanpa pola waktu yang pasti.
“Sebenarnya hanya satu atau dua ekor saja. Tapi memang belum ketemu sampai sekarang,” imbuh dia. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin
















