LINIKATA.COM, PATI – Sebanyak tiga trayek angkutan umum di Kabupaten Pati berhenti beroperasi. Penutupan rute ini merupakan dampak langsung dari merosotnya jumlah penumpang hingga lebih dari 50 persen akibat kalah saing dengan moda transportasi online.
Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Pati, Suyanto, mengonfirmasi bahwa tiga rute yang kini tidak lagi beroperasi adalah trayek Pati–Tambakromo, Pati–Gabus–Winong, serta Juwana–Winong.
”Dulunya ada 16 trayek, sekarang tinggal 13. Jalur Pati–Tambakromo, Pati–Gabus–Winong, dan Juwana–Winong itu sudah tidak jalan sama sekali,” tegas Suyanto, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Siap Jemput-Antar, Pelajar Pati Cukup Bayar Rp5 Ribu Naik Angkutan Sekolah
Penutupan tiga rute tersebut membuat operasional angkutan umum di Pati kian memprihatinkan. Suyanto menggambarkan kondisi angkutan konvensional saat ini sedang mengalami “mati suri” karena makin ditinggalkan masyarakat.
Menurutnya, pengguna jasa angkutan kini hanya tersisa dari kalangan pelajar sekolah dan pedagang pasar yang memang sudah berlangganan. Masyarakat umum hingga pegawai instansi yang dulunya menjadi langganan, kini beralih ke moda transportasi lain.
”Kalau penumpang penurunannya hampir lebih dari 50 persen. Saat ini yang di angkutan itu hanya anak sekolah dan pedagang langganan. Kalau dulu masyarakat umum, pegawai-pegawai PNS banyak, sekarang tidak,” ungkapnya.
Tergerus Maraknya Ojek dan Taksi Online
Suyanto menjelaskan, maraknya operasional ojek dan taksi berbasis aplikasi menjadi pemicu utama yang menggerus pendapatan para sopir angkutan kota maupun pedesaan di Pati.
Baca juga: Sampai Juli, Angka Kecelakaan di Pati Capai 986 Kasus, 14 Meninggal
”Angkutan ini mati suri, dulunya ramai sekarang karena banyaknya Grab Bike kemudian Grab Car ini kan mengurangi pendapatan,” terangnya.
Kondisi ini tidak hanya memukul perekonomian para sopir yang bertahan, tetapi juga mengancam keberlangsungan trayek-trayek lain yang masih tersisa di Kabupaten Pati jika tidak ada intervensi atau penataan moda transportasi lokal. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin
















