LINIKATA.COM, REMBANG — Inovasi pemanfaatan limbah yang digagas pelajar SMP Negeri 1 Lasem sukses menembus level Jawa Tengah. Lewat alat daur ulang canggih berbasis IoT, sekolah ini berhasil menyabet Juara 2 Krenova tingkat Kabupaten Rembang sekaligus mengamankan tiket menuju kompetisi serupa di tingkat provinsi.
Prestasi membanggakan tersebut dipersembahkan oleh tiga murid bertalenta, yaitu Ummi Roihana Zulfa, Syafira Nur Isnaini Bodriyanti, dan Luthfia Fathin Adzkiyah. Mereka sukses menyingkirkan puluhan rival dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) yang digelar oleh Bappeda Kabupaten Rembang.
Ajang bergengsi ini diikuti oleh 53 peserta dari kategori umum dan pelajar. Hebatnya, SMPN 1 Lasem menjadi satu-satunya delegasi terbaik Kabupaten Rembang yang lolos bertarung di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Kepala SMPN 1 Lasem, Estu Budi Winarni, menjelaskan, siswanya mempresentasikan penelitian berjudul “REWAX-IoT: Teknologi Pemulihan dan Daur Ulang Malam Batik Berbasis Internet of Things”. Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas melimpahnya limbah padat berupa sisa malam (lilin) di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, yang dikenal sebagai sentra batik tulis legendaris.
“Kami sangat bangga dan bersyukur bisa lolos ke tingkat provinsi. Inovasi REWAX-IoT ini hadir untuk memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan membantu perajin batik menghemat bahan baku lewat sistem daur ulang,” ujarnya.
Baca juga: Hari Pertama SPMB SMP di Rembang: Jalur Zonasi dan Prestasi Paling Banyak Diserbu
Kelanjutan Proyek Lafibiol untuk Atasi Limbah Batik
Dia menjelaskan, REWAX-IoT merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya tentang lingkungan yang dilakukan oleh sekolah. Jika sebelumnya tim Krenova menciptakan Lafibiol untuk menetralisasi limbah cair batik, kini mereka naik kelas dengan mengolah limbah padatnya di Kabupaten Rembang.
“Melalui integrasi teknologi Internet of Things (IoT), proses peleburan dan pemurnian malam bekas dapat dipantau dan dikontrol secara otomatis melalui perangkat digital. Hal ini membuat proses kerja mesin menjadi jauh lebih praktis, efisien, dan ekonomis,” jelas Estu.
Menatap persaingan di tingkat Jawa Tengah, pihak sekolah melakukan berbagai persiapan matang agar inovasi berbasis kearifan lokal ini mampu membawa pulang trofi juara untuk Kabupaten Rembang. Tim Jurnalistik RITULA. (Adv)
Editor: Ahmad Muhlisin















