LINIKATA.COM, REMBANG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 02 Karangharjo Kragan buka suara soal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan massal di SDN Balongmulyo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Selasa (21/4/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan 22 siswa harus dirawat di Puskesmas Kragan 2 setelah mengalami muntah-muntah dan sakit perut.
Gejala Muncul Usai Konsumsi Susu
Perwakilan SPPG 02 Karangharjo Kragan, Wahyu Adi, menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum para siswa mengonsumsi menu makanan utama. Menurutnya, gejala mual dan muntah muncul sesaat setelah siswa mengonsumsi susu yang dibagikan pasca kegiatan jalan santai di wilayah Kragan.
”Saya jelaskan, anak-anak ini belum sempat makan. Habis jalan-jalan langsung pada minum susu, jadi baru susunya saja. Kalau dibilang keracunan makanan, mungkin belum (tentu), karena makanannya belum dimakan,” beber Wahyu Adi saat memberikan klarifikasi di Rembang.
Baca juga: Mual dan Pusing Kepala, 22 Siswa SD di Balongmulyo Rembang Diduga Keracunan MBG
Wahyu menjelaskan bahwa susu yang didistribusikan dipastikan dalam kondisi layak konsumsi jika dilihat dari masa kedaluwarsa. Ia menyebutkan label expired pada kemasan masih sangat lama, yakni sekitar November 2026.
Menunggu Kepastian Hasil Uji Sampel Puskesmas
Meski demikian, pihaknya belum bisa memastikan penyebab pasti mengapa reaksi medis tersebut hanya terjadi di satu sekolah. Saat ini, tim medis dari Puskesmas Kragan 2 tengah melakukan penelitian mendalam terhadap sampel yang ada.
”Kami masih menunggu kepastian dari Puskesmas apa penyebabnya. Uji sampel untuk muntahan dan makanan masih diteliti, jadi kami menunggu laporan detailnya,” tambahnya.
Laporan Terisolasi di Satu Sekolah
Pihak SPPG mencatat bahwa mereka melayani total 24 sekolah di wilayah Kabupaten Rembang dengan jumlah penerima manfaat mencapai 3.238 siswa. Dari ribuan siswa tersebut, laporan keluhan kesehatan hanya muncul dari satu sekolah, yakni SDN Balongmulyo.
Baca juga: Jaga Kualitas MBG, Pemkab Rembang Gelar Rakor Bersama SPPI dan SPPG
”Kondisi susu dari sekian ribu penerima manfaat, alhamdulillah yang lain masih sehat dan aman. Hanya laporan dari SD itu saja yang masuk,” kata Wahyu.
Walaupun tetap mengedepankan hasil uji laboratorium, Wahyu tidak menutup kemungkinan adanya faktor teknis di lapangan dan menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab jika ditemukan kelalaian. “Mungkin tetap ada sedikit kelalaian dari kami, makanya kita tidak bisa memastikan sebelum ada hasil. Kita tunggu saja laporan resmi dari Puskesmas seperti apa,” pungkasnya. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin














