LINIKATA.COM, REMBANG – Operasional tiga pabrik pengolahan hasil laut di Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, mulai berdampak serius pada sektor pariwisata.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Rembang resmi mengadu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) terkait polusi bau dan pencemaran air yang merugikan pelaku usaha perhotelan di kawasan tersebut.
Pemilik Hotel Pantura, Siti Setyorini, mengungkapkan bahwa polusi bau dari aktivitas pabrik tersebut telah mencapai radius yang cukup jauh hingga masuk ke area kamar hotel. Menurutnya, kondisi ini diperparah saat angin laut bertiup kencang ke arah daratan.
Baca juga: KKP Segel Unit Tepung PT Indo Seafood yang Diduga Cemari Laut di Banyudono Rembang
“Sangat terdampak. Pengunjung mengalami penurunan hingga 60 persen lebih karena tamu mengeluh tidak nyaman di dalam hotel. Bau ini terjadi hampir setiap hari, 24 jam,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan bahwa keluhan tidak hanya datang dari tamu hotel, tetapi juga dari warga sekitar dan pengguna jalan yang melintas di jalur tersebut. Meski secara pribadi pihaknya sudah sering mengajukan komplain ke perusahaan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut atau perubahan nyata.
Senada dengan Siti, Pemilik Hotel Kartini, Tulus Setijabudi, menyoroti dampak lingkungan yang merembet ke sanitasi. Ia menyebut air sumur di tempat usahanya dan rumah warga sekitar mulai berubah warna dan berbau.
“Kalo Pas Musim Hujan kayak gini aman mas, karena Air sudah tercampur dengan air hujan. Tapi jika musim kemarau sumur-sumur warga warnanya berubah jadi merah. Di tempat usaha saya juga sama. Akhirnya kami harus menyiasati dengan membeli air tangki PDAM agar operasional tetap jalan dan tamu tidak komplain soal air,” jelasnya.
Tulus berharap ada tindakan tegas terhadap perusahaan-perusahaan tersebut, berkaca pada penindakan KKP RI yang sebelumnya dilakukan terhadap salah satu perusahaan.
“Harapannya dua perusahaan lainnya juga ada tindak lanjut meminimalisir limbah supaya tidak berbau. Kita sama-sama cari makan, yang penting saling menjaga kenyamanan agar industri pariwisata tidak mati,” tegasnya.
Menanggapi aduan tersebut, Sekretaris Dinbudpar Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan informasi terkait masalah yang ternyata sudah berlangsung lama ini.
“Ini menjadi perhatian kami. Tadi disampaikan dalam rapat koordinasi bahwa ada empat hotel di sekitar pabrik yang merasa tidak nyaman. Bahkan ada tamu yang baru masuk langsung minta pindah karena bau limbah yang mencemari tanah dan udara,” katanya.
Baca juga: Bertahun-tahun Terdampak Limbah, Warga Banyudono Rembang Ancam Gugat Pabrik Ikan
Pihak Dinbudpar mengkhawatirkan jika masalah ini dibiarkan berlarut, industri pariwisata di Rembang akan semakin terpuruk. Sebagai langkah konkret, pihaknya akan segera menjalin komunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang.
“Langkah selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan DLH untuk mencari solusi terbaik bagi para pelaku usaha hotel dan memastikan lingkungan kembali nyaman bagi wisatawan,” pungkasnya. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin













