LINIKATA.COM, PATI – Memasuki periode Februari 2026, harga Gabah Kering Panen (GKP) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terpantau mengalami kenaikan signifikan. Tren positif ini terutama dirasakan oleh para petani di wilayah selatan, khususnya di Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen. Kondisi ini menjadi angin segar bagi sektor pertanian setempat setelah melewati masa panen awal tahun.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kantor Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kayen, Masrukan, mengonfirmasi bahwa harga GKP saat ini telah melampaui angka Rp7.000 per kilogram. Ia memprediksi nilai tersebut masih berpotensi merangkak naik apabila kondisi cuaca terus membaik dan mendukung proses pascapanen.
Tren Kenaikan Harga di Wilayah Kayen
Kenaikan harga ini tersebar di beberapa titik wilayah binaan BPP Kayen dengan nominal yang bervariasi. Di Desa Jatiroto, harga gabah saat ini menyentuh Rp7.200 per kilogram, sementara di Desa Brati harga berkisar antara Rp7.000 hingga Rp7.100 per kilogram. Masrukan menjelaskan bahwa lompatan harga ini terjadi cukup cepat sejak awal bulan Februari dibandingkan harga sebelumnya yang hanya berada di angka Rp6.800 per kilogram.
Baca juga: Tembus 9,4 Ton per Hektare, Varietas Inpari 43 Jadi Primadona Baru Petani Pati
“Di Desa Jatiroto harga Rp 7.200 per kilogram GKP. Sedangkan, harga di Desa Brati kisaran Rp 7.000 sampai Rp 7.100 per kilogram GKP,” ungkapnya saat dihubungi, Jumat (13/2/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan perubahan harga tersebut mulai konsisten sejak memasuki awal Februari 2026.
“Harga itu mulai hari ini sejak awal Februari. Kalau sebelum awal Februari Rp 6.800 di Jatiroto wilayah binaanku,” jelasnya.
Faktor Cuaca dan Operasional Tengkulak
Menurut analisis Masrukan, terdapat beberapa faktor utama yang memicu kenaikan harga gabah di pasaran. Salah satunya adalah faktor cuaca panas yang sangat mendukung proses pengeringan gabah secara alami, sehingga kualitas gabah tetap terjaga. Selain itu, rendahnya biaya operasional di tingkat tengkulak turut mendorong harga beli di tingkat petani menjadi lebih kompetitif.
“Harga tersebut cenderung tinggi. Bisa (naik lagi),” tutur Masrukan optimistis mengenai tren harga ke depan.
Produktivitas Lahan Pertanian Jatiroto
Kegiatan panen raya di Desa Jatiroto sendiri sudah berlangsung sejak pekan ketiga Januari tahun ini. Desa yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Tambakromo tersebut memiliki total luasan areal pertanian padi mencapai 575 hektare. Hingga saat ini, sebagian besar lahan telah selesai dipanen dengan hasil produksi yang cukup memuaskan.
Baca juga: Plt Bupati Pati Klaim Program “10 Ton Bisa” Sukses, Minta Petani Tak Usah Ragu
Dari ratusan hektare lahan yang ada, rata-rata produksi hasil panen mampu mencapai angka 6,5 hingga 7 ton GKP. Meskipun sebagian besar lahan sudah dipanen, Masrukan menyebutkan masih terdapat beberapa area persawahan yang sedang menunggu giliran panen terakhir.
“Hasil produksi 6,5 ton sampai 7 ton di luas areal lahan 575 hektar. Ada lahan yang belum, tinggal sedikit,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














