LINIKATA.COM, REMBANG – Perum Bulog merencanakan pembangunan infrastruktur pascapanen modern di Kabupaten Rembang berupa silo untuk penyimpanan gabah dan sentra pengering jagung. Silo tersebut dirancang berkapasitas hingga 9.000 ton dan mampu menyimpan gabah kering giling (GKG) sebelum diproses menjadi beras medium maupun premium.
Pimpinan Bulog Cabang Pati, Meitha Nova Riany menjelaskan, gabah yang diserap Bulog nantinya akan disimpan dalam silo sebelum diproses lebih lanjut. Dari penyimpanan tersebut, gabah dapat diolah menjadi beras medium maupun premium, bahkan dikembangkan menjadi produk turunan seperti tepung beras.
“Nanti padi masuk ke mesin Bulog, disimpan dalam silo kapasitas 9.000 ton. Kapan pun mau diproses menjadi beras premium atau medium, hasilnya tetap fresh,” jelas Meitha, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: Amankan Stok, Bulog Pasok 500 Ribu Minyakita ke Pasar di Eks Karesidenan Pati
Menurutnya, beras yang dihasilkan merupakan bagian dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang akan disalurkan untuk kebutuhan stabilisasi maupun bantuan pangan. Dengan sistem penyimpanan modern, kualitas beras tetap terjaga.
“Berasnya selalu fresh. Fungsinya untuk menjaga standar harga, sehingga tidak ada lagi harga di bawah harga pembelian pemerintah,” tegasnya.
Selain beras, Bulog juga melihat potensi penguatan komoditas jagung di Rembang. Meitha menuturkan, harga jagung di tingkat petani kerap rendah karena belum memenuhi standar kadar air yang ditetapkan pemerintah.
“Yang diatur pemerintah itu jagung pipil kering. Kalau masih bonggol atau belum dipipil memang belum diatur. Untuk jagung pipil kering dengan kadar air 18–20 persen, Bulog membeli Rp5.500. Tetapi itu harus melalui proses pengeringan,” ujarnya.
Ia menduga rendahnya harga di tingkat petani, yang bisa berada di kisaran Rp3.500 per kilogram, disebabkan belum tersedianya fasilitas pengeringan. Karena itu, Bulog mendorong pembangunan Corn Drying Center atau sentra pengeringan jagung.
“Fasilitas ini untuk menurunkan kadar air setelah panen. Kalau itu ada, nilai tukar petani bisa meningkat dan harga mengikuti standar pemerintah,” katanya.
Baca juga: Bulog Jateng Ditarget Serap 374.658 Ton Beras di 2026
Terkait rencana pembangunan, membutuhkan dukungan Pemkab Rembang untuk penyediaan lahan seluas minimal lima hektare. Namun, lahan tersebut harus berstatus hibah karena Bulog tidak diperkenankan membangun di atas aset milik daerah tanpa proses hibah.
Seluruh pembiayaan pembangunan akan ditanggung Bulog, sementara proses administrasi hibah menjadi kewenangan pemerintah daerah dan DPRD.
“Minimal lima hektare karena kebutuhan mesin modern. Jika proses hibah selesai dan sudah ada persetujuan, kami targetkan pembangunan pada 2026,” jelasnya.
Menanggapi rencana pembangunan sentra pascapanen oleh Perum Bulog, Bupati Rembang Harno menyatakan dukungannya. Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Rembang siap menyiapkan lahan sesuai kebutuhan.
“Pemkab akan menyiapkan lahan minimal lima hektare. Kalau bersama jagungnya, bisa sampai tujuh hektare,” ujar Harno.
Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut akan sangat membantu petani, terutama dalam penanganan pascapanen. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang, proses pengeringan jagung kerap menjadi kendala.
“Kalau ini terealisasi, tentu akan membantu masyarakat petani dalam pascapanen. Terutama sekarang panen jagung, karena hujan dan kondisi cuaca, kita agak susah pengeringannya. Nanti mungkin di situ ada fasilitas pengeringan jagung,” jelasnya.
Harno juga mengungkapkan telah memikirkan lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan sentra tersebut. Salah satu opsi berada di kawasan lahan milik pemkab di bagian belakang area Gedung Olahraga (GOR) yang berdekatan dengan Kampus Undip. Akses menuju lokasi juga dinilainya cukup memadai karena dapat dilalui melalui Jalan Desa Kerep maupun jalan utama lainnya.
“Saya sudah berpikir, untuk awal bisa ditempatkan di bagian belakang. Sebelah utara kan Undip, kurang lebih ada 15 hektare. Masih ada luas lahan, nanti saya taruh di belakang. Lewatnya bisa lewat Jalan Kerep dan juga bisa lewat jalan utama. Nanti akan saya hitung kebutuhan luasnya untuk semuanya,” pungkas Harno. (LK8)
Editor: Ahmad Muhlisin














