LINIKATA.COM, PATI – Genangan banjir yang merendam Desa Doropayung, Kabupaten Pati, selama hampir tiga pekan terakhir mulai berdampak pada kondisi psikologis warga. Para pengungsi yang bertahan di posko darurat kini mulai merasakan kejenuhan yang mendalam akibat terlalu lama meninggalkan rumah mereka.
Salah satu pengungsi, Masudah (52), mengaku rasa bosan mulai menyelimuti kesehariannya meskipun kebutuhan dasar di posko telah tercukupi oleh petugas. Menurutnya, tinggal di pengungsian dalam waktu lama memberikan atmosfer yang sangat berbeda dibandingkan berada di hunian sendiri.
“Aslinya bosen mas, ini kan bukan rumah sendiri. Kalau rumah sendiri kan beda rasanya,” ujar Masudah saat ditemui di posko pengungsian, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Atasi Banjir, Pemkab Pati Wacanakan Buat Sodetan 11 Km di Sungai Silugonggo
Kondisi di posko Desa Doropayung saat ini dihuni oleh sedikitnya 15 kepala keluarga yang terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Meski suasana di pengungsian tergolong ramai karena banyaknya warga yang senasib, Masudah mengakui bahwa rasa rindu terhadap kenyamanan rumah tetap tidak bisa digantikan oleh fasilitas apapun yang ada di posko.
Sebenarnya, Masudah memiliki pilihan untuk mengungsi ke tempat yang lebih nyaman, yakni di rumah anak-anaknya yang berlokasi di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Ia sempat mencoba mengungsi ke sana, namun hal itu tidak bertahan lama. Ia memilih kembali ke posko terdekat karena alasan aksesibilitas untuk memantau rumahnya yang terdampak banjir.
“Kemarin ikut ngungsi di rumah anak. Tapi kalau mau bersih-bersih rumah kan jauh mas, daripada riwa-riwi. Kalau di sini kan dekat,” jelasnya.
Untuk menyiasati rasa jenuh yang melanda, ia dan warga lainnya berupaya mengisi waktu dengan beragam aktivitas komunal. Mereka terbiasa bercengkerama, saling bertukar cerita, hingga bergotong-royong di dapur umum untuk membantu menyiapkan konsumsi bagi sesama pengungsi. Namun, bagi Masudah, rutinitas tersebut tetap terasa hambar dibandingkan dengan rutinitas normal di rumah sendiri.
“Posko ini bagus, tapi kalau bukan rumah sendiri ya sama saja. Tetap lebih enak di rumah,” ucapnya dengan nada lirih.
Baca juga: 3 Pekan Banjir Pati: 45 Desa Masih Terendam, 1.060 Warga Mengungsi
Banjir yang melanda wilayah Doropayung tahun ini tergolong cukup parah dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik. Rumah Masudah yang berada di posisi pojok menjadi salah satu yang terdampak paling lama. Karakteristik banjir di wilayah ini memang dikenal sulit surut, bahkan pada banjir besar tahun 2014, warga harus menunggu hingga satu bulan hingga air benar-benar hilang.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena alam di mana genangan air merupakan perpaduan antara luapan Sungai Juwana dan pengaruh pasang air laut. Masudah menjelaskan bahwa proses surutnya air berlangsung sangat lambat karena setiap sore debit air seringkali kembali naik akibat air laut yang pasang.
“Di sini surutnya sedikit-sedikit. Sore pasti naik lagi karena ada pasang laut,” tambahnya.
Meski pemerintah daerah telah mewacanakan program normalisasi sungai sebagai solusi jangka panjang, Masudah memandang pesimis hal tersebut akan menyelesaikan masalah banjir di desanya secara permanen. Ia merasa lokasi tempat tinggalnya sudah menjadi langganan banjir tahunan yang sulit dihindari.
“Kalau dinormalisasi ya mungkin tetap banjir juga di sini,” tuturnya menutup pembicaraan. Kini, ia hanya bisa menggantungkan harapan pada faktor alam agar air segera surut sehingga ia bisa kembali membersihkan rumah dan menjalani kehidupan normal.
“Harapannya ya cepat surut, bisa pulang, bisa beraktivitas lagi,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin














