LINIKATA.COM, PATI – Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir parah. Kondisi ini makin ditambah dengan adanya rob yang membuat genangan sulit surut.
Banjir yang berbarengan dengan musim baratan membuat genangan di perkampungan sulit surut. Selain itu, 100 hektare tambak juga ikut terdampak dengan kerugian ditaksir mencapai Rp5 miliar.
Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan, banjir dan rob sudah menggenangi desanya sepekan lebih. Akibatnya, aktivitas ekonomi warga lumpuh total.
Baca juga: 2 Dapur Umum Dinsos Pati Sediakan 6.000 Nasi Tiap Hari untuk Korban Banjir
“Banjir kali ini penyebabnya curah hujan tinggi dari arah barat sehingga aliran sungai menuju muara yang asalnya dari desa sebelah di Jepat Kidul larinya ke sini, sehingga baru ke muara laut. Ada empat aliran sungai yang mengaliri dari atas ke laut karena kondisinya hujan terus akhirnya genangan air di sini tidak segera habis,” ujar dia, Sabtu (24/1/2026).
Dia menyampaikan, banjir menyebabkan 257 rumah penduduk tergenang air selama lebih dari sepakan. Saat ini Rumah Sekretaris Desa (Sekdes) Tunggulsari menjadi posko pengungsian dan pos layanan pengobatan warga.
“Untuk banjir tahun ini debit air di rumah dari mulai 15 sampai 20 sentimeter, di jalan sampai 80 sentimeter, namun praktis seluruh rumah 257 rumah terendam. Jadi aktivitas masyarakat seminggu praktis terganggu, itu mengenai banjir,” ucap Yudi, sapaannya.
Setyo mengungkapkan, banjir yang melanda Desa Tunggulsari diprediksi lama surutnya, karena desa ini berada di muara. Bahkan pada pertengahan 2025 lalu, banjir rob di desa tersebut bisa berbulan-bulan.
Baca juga: Terisolasi Banjir, Puskesmas Jakenan Layani Warga Karangrowo Pati Lewat Perahu
Maka dari itu, Setyo berharap pemerintah bisa berkonsentrasi penuh menangkal bencana banjir di Desa Tunggulsari. Apalagi banjir menjadi fenomena tahunan.
“Harapannya dengan kejadian ini Pemda (Pemerintah Daerah) bisa konsentrasi melihat kondisi bencana yang datang yang semakin besar. Jadi bencana tahunan ini lebih besar sehingga desa tidak akan bisa mampu counter itu. Masyarakat maunya tanggul laut,” tutupnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














