LINIKATA.COM, PATI – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menghadiri panen raya di Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Kamis (22/1/2026). Lahan pertanian di wilayah tersebut diklaim sukses laksanakan program 10 Ton Bisa yang jadi bagian program ketahanan pangan Pemerintah Pusat.
Dalam kegiatan itu, Chandra bersama beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati tampak turun langsung ke sawah. Mereka ikut serta memanen padi dengan menaiki mesin combine harvester.
Chandra menjelaskan, kehadiran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dalam panen raya itu merupakan bentuk dukungan pada petani dalam program 10 Ton Bisa. Bahkan dia mengklaim, program tersebut sudah sukses dilaksanakan di beberapa wilayah.
Baca juga: Terendam Banjir, Petani Ngurenrejo Pati Terpaksa Panen Dini Bawang Merah
“Pagi hari ini kami melaksanakan panen di Desa Gabus. Alhamdulillah panen hari ini membuktikan bahwa program 10 Ton Bisa sudah terbukti,” katanya.
Menurut Chandra, petani bisa mendapatkan hasil panen hingga 10 ton lebih. Hal itu juga banyak ditemukan di beberapa lahan pertanian lainnya di Bumi Mina Tani.
“Jadi panen hari ini lebih dari 10 ton. Di beberapa tempat juga sudah terbukti 10 ton bisa,” tegasnya.
Dengan keberhasilan ini, Chandra mengajak para petani tak ragu melaksanakan program unggulan Pemkab Pati dalam bidang pertanian tersebut. Apalagi, pihaknya juga memberikan dukungan maksimal untuk meningkatkan perekonomian warga.
“Jadi semua petani, monggo silakan diaplikasikan seperti yang di Desa Gabus ini, supaya ekonomi masyarakat Pati, terutama pertanian ini bisa meningkat,” katanya.
Salah satu petani, Suwarjo mengaku program tersebut memang berhasil menaikkan produktivitas petani. Meski terkena serangan tikus, hasil panen petani tetap lebih tinggi.
“Dibandingkan tahun-tahun lalu masih bagus tahun ini. Dulu hasil panen kisaran 6 sampai 7 ton (per hektare),” ungkapnya.
Baca juga: Diserang Tikus, Petani Jagung Wukirsari Pati Rugi hingga Rp10 Juta per Hektare
Menurut dia, untuk harga juga sedang bagus yakni berkisar Rp6.700 sampai Rp6.800 pwr kilogram atau di atas Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan Kementerian Pertanian sebesar Rp6.500. Bahkan, panen sebelumnya, harga gabah sempat mencapai Rp7.200 sampai Rp7.300 per kilogram.
“Untuk sekarang gabah tidak diserap Bulog karena harga masih berpihak kepada petani. Biasanya Bulog turun lapangan kalau harganya di bawah Rp6.500 per kilogram,” tuntasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














