LINIKATA.COM, DEMAK – Tiga hari pasca-jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ribuan warga masih bergelut dengan sisa-sisa banjir. Meski debit air mulai surut di beberapa titik, duka mendalam menyelimuti warga yang kehilangan tempat tinggal, dibarengi keluhan terkait distribusi bantuan yang masih minim.
Di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur salah satu wilayah yang sempat terisolasi pemandangan puing-puing bangunan menjadi saksi bisu derasnya terjangan air pada Jumat (3/4) lalu.
Zikin, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan, terutama untuk kebutuhan spesifik dan pemulihan hunian. Pasalnya 15 rumah rusak berat bahkan empat diantarnya hilang tersapu arus.
Baca juga: Sungai Tuntang Meluap, Jalur Karangtengah-Demak Lumpuh Total Terendam Banjir
Kebutuhan mendesak yang paling dibutuhkan adalah logistik pangan, perlengkapan balita (popok), selimut, dan bantuan perbaikan rumah.
“Masih minim bantuan, Mas. Kami sangat butuh pempers untuk balita, selimut, dan harapan kami ada bantuan untuk memulihkan rumah yang rusak,” ujar Zikin, Minggu (5/4/2026).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat meninjau posko pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur, menegaskan bahwa prioritas utama adalah pemenuhan layanan dasar.
“Prinsipnya layanan dasar masyarakat harus terpenuhi, mulai dari sekolah, layanan kesehatan, hingga bahan pokok makanan. Semua harus dipastikan tersedia,” tegas Luthfi, Sabtu (4/4/2026).
Selain penambalan tanggul darurat yang sedang dikebut, Pemprov Jateng berencana mengambil langkah jangka panjang agar bencana serupa tidak berulang. Dalam waktu dekat bakal koordinasi lintas wilayah dengan mengumpulkan kepala daerah di Karesidenan Semarang Raya dan Pati Raya serta sinergi dengan BBWS Pemali Juana untuk mengevaluasi aliran Sungai Tuntang.
Baca juga: Tragedi Tanggul Sungai Tuntang: Dua Nyawa Melayang di Tengah Kepungan Banjir Demak
Langkah Komprehensif ini demi menangani masalah dari hulu hingga hilir, bukan sekadar penanganan saat banjir terjadi.
“Kita tidak bisa hanya seperti pemadam kebakaran yang baru bergerak saat ada banjir. Penanganan harus tuntas dari puncaknya (hulu),” tambahnya.
Berdasarkan data dari BPBD Demak per Sabtu (4/4), banjir akibat fenomena hidrometeorologi ini meluas ke 10 desa di 4 kecamatan. Dimana 13.106 jiwa terdampak dan 2.867 jiwa diantaranya mengungsi tersebar di 15 titik pengungsian. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















