LINIKATA.COM, PATI – Sampai pertengahan Maret 2026, 11 warga Kabupaten Pati terjangkit penyakit kusta. Penyakit yang menyerang saraf tepi dan kulit ini jadi perhatian serius karena bisa menyebabkan cacat fisik.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, mengungkapkan, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini menyerang jaringan saraf penderitanya. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah munculnya bercak putih pada kulit yang disertai dengan mati rasa (anestesi). Kondisi ini sering kali mengecoh masyarakat karena kemiripannya dengan penyakit kulit ringan seperti panu.
Gejala awal kusta ada gangguan pada saraf, tidak terasa sakit ketika dicubit itu salah satu gejala khusus. Kemudian muncul bercak dan mati rasa, bedanya sama panu, kalau panu masih ada rasa,” jelas Yanti.
Baca juga: Waspada Penyakit Kusta di Pati: Sampai Maret Ada 11 Kasus
Meskipun masa inkubasi bakteri ini tergolong lama—bisa mencapai 5 hingga 7 tahun—tingkat penularannya sebenarnya relatif kecil. Penularan biasanya terjadi melalui kontak fisik erat yang berulang atau melalui percikan cairan pernapasan (droplet).
“Inkubasi masuk jadi sakit lama bisa 5, 6, 7 tahun. Bisa kena keluarga inti yang kontak erat dengan pasien, bisa juga penularannya akibat kontak kulit atau percikan nafas bisa dahak waktu batik atau bersin,” urai Yanti.
Pihak Dinkes menekankan bahwa kusta dapat disembuhkan secara total asalkan pasien disiplin dalam menjalani pengobatan yang memakan waktu satu hingga dua tahun. Seluruh layanan pemeriksaan dan obat-obatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) seperti Puskesmas disediakan secara gratis.
“Misalkan kalau ada bercak kita suspek untuk tes anestesi. Kalau menemui segera melaporkan ke fasyankes terdekat, bisa puskesmas, bisa ke bidan desa menjalani pemeriksaan dan pengobatan juga gratis,” sarannya.
Baca juga: Waspada! 6 Kasus Campak Muncul di Pati Mayoritas Serang Anak-Anak
Selain pengobatan medis, kebersihan lingkungan menjadi faktor kunci dalam memutus rantai penyebaran bakteri. Dinkes Pati juga terus menggencarkan berbagai program seperti Rapid Village Survey (RVS) dan Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk mendeteksi kasus secara dini.
“Penyakit ini bisa menular tetapi bisa diobati sehingga bisa sembuh. Sejauh ini, masyarakat perlu diedukasi, kita harus memotivasi pasien tersebut,” pungkas Yanti. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















