LINIKATA.COM, KUDUS – Cahaya lampu panggung Hotel @Hom Kudus menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan penyelamatan budaya pada Minggu (8/2/2026) malam. Tari Caping Kalo resmi diperkenalkan kepada publik sebagai simbol kebangkitan caping kalo, penutup kepala khas Kudus yang kian jarang ditemukan.
Caping kalo kini berada di ambang kepunahan. Tingkat kerumitan anyaman yang tinggi dan minimnya regenerasi pengrajin menjadi tantangan utama yang ingin dijawab melalui peluncuran tarian ini.
Kinanti Sekar Rahina, sang koreografer, menjelaskan bahwa tarian ini adalah buah dari riset panjang sejak Maret tahun lalu. Baginya, setiap gerak dalam tarian ini mencerminkan watak asli perempuan Kudus.
Baca juga: Program Gentingisasi Prabowo: Jamaludin Malik Dorong Genteng Kudus-Jepara Mendunia
“Perempuan Kudus itu unik; mereka rendah hati namun memiliki semangat yang lincah atau solah. Meski dalam balutan jarik yang rapi, gerak mereka tetap gesit. Inilah esensi yang saya tuangkan dalam Tari Caping Kalo,” ungkap Kinanti.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Kinanti berharap nilai seni ini masuk ke sekolah-sekolah. Ia ingin anak muda tidak hanya pandai menari, tapi juga belajar ketelatenan menjalin bambu menjadi caping kalo yang halus, guna menumbuhkan empati terhadap warisan leluhur.
Langkah ini didukung penuh oleh Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam’ani. Ia melihat tarian ini sebagai identitas yang harus dibanggakan secara massal.
“Kami ingin tarian ini menjadi milik semua orang. Bukan hanya kelompok seni, tapi juga para pelajar, ASN, hingga organisasi wanita di Kudus. Ini adalah cara kita memuliakan kerakyatan menjadi warisan yang agung,” ujar Endhah.
Dia menyatakan bahwa keberhasilan Tari Kretek di tahun sebelumnya menjadi pelecut semangat untuk membawa Tari Caping Kalo ke level serupa.
“Target kami jelas, Rekor MURI di tahun 2026. Kami akan menggerakkan semua lini, mulai dari Dinas Pendidikan hingga kader PKK dan ASN, untuk mulai mempelajari tarian ini,” tegas Endhah.
Baca juga: KDMP Getas Pejaten Kudus Bakal Bangun Rest Area dan Pasar untuk Dongkrak PAD
Tak hanya lewat tarian, pemerintah juga memperkuat ekosistem pengrajin melalui kebijakan daerah. Setiap tanggal 23, warga Kudus diwajibkan memakai busana adat lengkap dengan caping kalo.
“Hal ini dilakukan agar permintaan produk meningkat dan kesejahteraan pengrajin yang nyaris punah tetap terjaga,” pungkasnya. (LK6)
Editor: Ahmad MuhlisinÂ














