LINIKATA.COM, PATI – Dampak bencana banjir di Kabupaten Pati tidak hanya melumpuhkan lahan persawahan padi, tapi juga memukul telak sektor pertanian bawang merah. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Pati, total kerugian yang dialami para petani ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, mengungkapkan bahwa wilayah yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Wedarijaksa. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah utama di Pati.
Genangan air yang tinggi menyebabkan puluhan hektare lahan siap panen mengalami kerusakan fatal dan mematikan produktivitas petani setempat.
Baca juga: Banjir Pati: 14 Ribu Hektare Sawah Puso, Kerugian Ditaksir Rp301 Miliar
Mengenai rincian wilayah terdampak, Ratri menjelaskan bahwa ada lima desa di wilayah tersebut yang terendam banjir cukup dalam hingga menghentikan aktivitas pertanian.
“Sedikitnya lahan bawang merah ada di lima desa yang terkena dampak banjir. Di antaranya Desa Ngurenrejo, Ngurensiti, Bangsalrejo, Sidoharjo, dan Pagerharjo. Semuanya di Kecamatan Wedarijaksa,” kata Ratri saat dihubungi awak media, Senin (2/2/2026).
Puluhan Hektare Lahan Puso dan Estimasi Kerugian
Berdasarkan laporan di lapangan, luas lahan yang terdampak banjir dan dinyatakan mengalami puso atau gagal panen mencapai 66 hektare. Tanaman bawang merah yang rusak tersebut rata-rata sudah memasuki usia produktif, yakni antara 20 hingga 54 hari dengan varietas unggulan jenis Bauji dan Tajuk. Kondisi inilah yang memicu melonjaknya angka kerugian finansial yang sangat besar di tingkat petani.
“Kalau diperkirakan kerugian bisa mencapai Rp 5,4 miliar dari lahan bawang merah saja,” imbuh dia.
Sebagai langkah solusi atas keterpurukan ekonomi petani, Pemerintah Kabupaten Pati kini tengah mengupayakan skema penyerapan hasil panen yang masih tersisa. Bawang merah yang masih bisa diselamatkan melalui panen dini rencananya akan dialokasikan untuk menyuplai kebutuhan dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Strategi ini diharapkan mampu menjadi bantalan ekonomi bagi para petani di tengah situasi sulit ini,” katanya
Baca juga: 3 Pekan Banjir Pati: 45 Desa Masih Terendam, 1.060 Warga Mengungsi
Perjuangan Petani Menerjang Banjir Demi Panen Dini
Fenomena panen darurat sebelumnya memang sudah terlihat di Desa Ngurenrejo sejak pertengahan Januari lalu. Para petani terpaksa melakukan aksi cepat untuk menyelamatkan sisa tanaman mereka meski harus menerjang banjir dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Langkah nekat ini diambil agar modal tanam yang telah dikeluarkan tidak hilang sepenuhnya ditelan luapan air.
Selain hasil panen yang tidak maksimal karena ukuran umbi yang belum sempurna, biaya operasional petani justru membengkak akibat sulitnya proses evakuasi di tengah genangan air. Kondisi ini kian menjepit posisi petani karena mereka harus menghadapi kenyataan harga jual yang merosot di pasar, sementara biaya tenaga kerja dan transportasi untuk panen darurat meningkat drastis. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin














