LINIKATA.COM, PATI – Pedagang daging ayam di Pasar Puri Baru, Kabupaten Pati mengeluhkan penjualan yang menurun drastis sejak adanya program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini makin diperparah dengan harga daging ayam yang terus merangkak naik menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pedagang Pasar Puri Baru, Riris mengungkapkan, harga daging ayam terus naik dalam beberapa hari terakhir. Naiknya bertahap dari Rp37 ribu per kilogram hingga kini mencapai Rp40 ribu. Harga ini bisa naik hingga Rp42 ribu saat Nataru dan Rp45 ribu saat Lebaran.
“Kemarin-kemarin masih Rp37.000, Rp38.000. Naiknya itu dari harga hidup sudah Rp3.000 per kilogram. Selama tiga bulan ini harganya tidak mau turun. Jadi harga segitu di pasaran, ya agak berkurang lah peminatnya,” beber dia saat ditemui di lapaknya, Jumat (5/12/2025).
Baca juga: Harga Cabai Setan di Pati Tembus Rp80 Ribu Sekilo
Menurut dia, salah satu penyebab pembeli berkurang adalah adanya program MBG. Sebelumnya, setiap hari dia bisa menjual hingga 2 kuintal daging ayam. Namun, kini bisa menjual 1,5 kuintal saja sudah bagus.
“Karena program MBG, jadi orang jarang beli daging ayam. Biasanya anak-anak sudah dapat ayam dari sekolah, kan. Jadi ibu-ibu yang beli dikit-dikit, sekilo, setengah (kilogram), kayak gitu kan jarang,” katanya.
Belum lagi para penjual asongan yang biasanya beli daging ayam untuk sempolan atau pentol, kini juga berkurang. Saat ini, dirinya hanya bisa mengandalkan setoran ke beberapa pelanggan seperti pabrik, rumah makan, hingga rumah sakit.
“(Pembeli) berkurang banyak ini. Dari bakul yang biasanya jual di pinggiran, pedagang kaki lima itu kan dibuat sempolan, dibuat pentol, kayak gitu sudah berkurang juga yang ambil,” sebut Riris.
Makanya, dia berharap program MBG itu bisa juga menyentuh pedagang kecil agar bisa ikut kecipratan program unggulan pemerintah itu. Sepengetahuannya, supplier bahan makanan MBG biasanya pemain besar.
“Karena, kan fokusnya mungkin yang diorderi, kan satu orang itu saja. Ya bos lah. Pedagang-pedagang kecil kayak gini, kan, pembeliannya jadi berkurang. Kalau bisa, kan ada pemerataan,” ujarnya.
Baca juga: Jelang Nataru, Harga Cabai di Kudus Semakin Pedas, Naik 100 Persen
Dengan berkurangnya penjualan ini, dia juga berharap harga daging ayam bisa turun. Menurutnya, jika dijual Rp40 ribu per kilogram, untung yang ia dapatkan sudah mepet.
“Untuk stok aman. Barang ada terus. Tapi dijual segitu ya, aslinya untungnya kurang. Harusnya Rp42 ribu lebih. Kalau pasar sore bisa segitu, tapi kalau di sini paling mahal Rp40 ribu,” ungkapnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














