LINIKATA.COM, KUDUS – Fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Kudus masih menjadi tantangan serius. Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus mencatat telah menangani 25 kasus kekerasan sepanjang tahun 2025.
Data tersebut mencakup berbagai jenis pelanggaran, mulai dari kekerasan fisik, psikis, verbal, hingga kekerasan seksual. Laporan dihimpun melalui aduan langsung ke kantor dinas maupun kanal layanan SAPA 129 milik Kementerian PPPA.
Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus, Putut Winarno, melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yuni Saptorini, mengungkapkan bahwa jenis kekerasan yang terjadi sangat variatif. Selain Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), juga menangani kasus pelecehan seksual serta anak berhadapan dengan Hukum (ABH).
Baca juga: Miris! Kasus Kekerasan pada Anak di Pati Banyak Terjadi di Sekolah hingga Ponpes
“Pelaku didominasi oleh orang-orang dari lingkungan terdekat, mulai dari suami, ayah tiri, teman sebaya dalam kasus perundungan, hingga mantan pacar,” jelas Yuni saat dikonfirmasi, Selasa (10/2/2026).
Yuni memberikan atensi khusus pada maraknya Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE). Ironisnya, mayoritas pelaku adalah teman sebaya atau mantan kekasih korban. Minimnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak menjadi salah satu pemicu utama.
“Ada korban KSBE yang masih berusia 14 tahun, ada juga pelajar SMA dan mahasiswa. Karena terjadi di ruang digital, orang tua sering kali tidak menyadari. Korban biasanya baru melapor setelah merasa terdesak dan bingung,” terangnya.
Tren kekerasan nampaknya belum mereda. Memasuki awal tahun 2026, Dinsos P3AP2KB mencatat sudah ada empat laporan baru yang masuk. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk memperketat sistem perlindungan.
Baca juga: Lestari Moerdijat Tekankan Penanganan Kekerasan di Kampus Harus Fundamental
Sebagai langkah antisipasi, dinas secara rutin menggelar sosialisasi lintas sektoral dengan menggandeng TP-PKK Kabupaten Kudus, Forum Anak, hingga berbagai komunitas masyarakat.
“Kasus bullying di sekolah masih menjadi tantangan besar. Kami terus bersinergi dengan berbagai pihak agar upaya pencegahan bisa menjangkau hingga akar rumput,” pungkas Yuni. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin














