LINIKATA.COM, PATI – Insiden dugaan keracunan massal menimpa puluhan siswa SMKN 4 Pati usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (9/2/2026). Sebanyak 21 siswa dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Pati setelah mengeluhkan gejala mual dan pusing sesaat setelah mengonsumsi menu garang asem.
Suasana di sekolah sempat tegang saat sejumlah mobil ambulans hilir mudik mengevakuasi para siswa. Di salah satu ruang kelas, tenaga kesehatan juga tampak berjaga memberikan pertolongan pertama bagi siswa yang kondisinya masih dalam pemantauan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Wilayah III, Budi Santosa, menyebutkan bahwa menu tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pati Margorejo. Makanan tiba pukul 11.30 WIB dan mulai dibagikan pada tengah hari. Namun, gejala muncul hanya dalam hitungan menit.
Baca juga: 121 Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan MBG Menu Soto
“Kami mendapatkan MBG pada jam 11.30 dan MBG dibagikan jam 12.00. Tapi baru dimakan jam 12.06 ada beberapa anak yang mengeluh, mual, pusing dan muntah-muntah,” terang Budi saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.
Beruntung, pihak sekolah bergerak cepat menghentikan distribusi sebelum seluruh kelas sempat menyantapnya. Mayoritas korban merupakan siswa kelas X jurusan mesin.
“Sudah 21 anak yang sampai saat ini dibawa ke KSH dan alhamdulillah sudah mendapatkan penanganan yang sangat luar biasa,” tambahnya.
Budi juga bersyukur dampak kejadian ini tidak meluas ke seluruh sekolah. “Baru dimakan beberapa anak karena dibagikan jam 12.00, jam 12.06 sudah ada keluhan dari anak. Terus kita hentikan ya. Tidak semua anak, sudah kita tarik kembali sehingga tidak meluas kemana-mana,” jelasnya.
Baca juga: Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan, Ketua Satgas MBG: Semua Dapur Harus Kompak
Sementara itu, Kepala SPPG Pati-Margorejo Rosesita Tri Suci Rohani mengaku telah menjalankan prosedur standar sebelum mengirim paket makanan yang berisi nasi, garang asem, sayur, semangka, dan susu kedelai tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan rapid test.
“Sebelum distribusi sudah dilakukan rapid test semua. Kita lihat hasilnya (pemeriksaan laboratorium) seperti apa, karena semua masih indikasi,” ungkapnya singkat.
Hingga kini, sampel makanan telah dibawa untuk pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab pasti dari insiden tersebut. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














