LINIKATA.COM, PATI – Kabar gembira datang dari dunia pertanian di Kabupaten Pati. Padi varietas Inpari 43, yang merupakan hasil budi daya Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, kini mulai dilirik sebagai alternatif unggulan bagi para petani.
Varietas ini dinilai memiliki berbagai keunggulan kompetitif, terutama dalam mendongkrak hasil produksi gabah yang jauh lebih melimpah dibandingkan jenis padi pada umumnya.
Capaian Produksi Inpari 43 di Desa Tamansari
Potensi besar dari Inpari 43 ini dibuktikan langsung melalui pendampingan yang dilakukan oleh Serikat Petani Pati (SPP) di Desa Tamansari, Kecamatan Jaken. Di lahan yang dikenal sebagai area tadah hujan tersebut, hasil panen menunjukkan angka yang sangat memuaskan.
Baca juga: Plt Bupati Pati Klaim Program “10 Ton Bisa” Sukses, Minta Petani Tak Usah Ragu
Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan, mengungkapkan bahwa dalam satu hektare lahan, varietas ini mampu memproduksi padi dalam jumlah besar.
“Bahkan kalau melihat hasil ubinan bisa mencapai 11,7 ton per hektare,” terang dia, Jumat (6/2/2026).
Keunggulan Inpari 43 Dibandingkan Varietas Lain
Salah satu alasan mengapa varietas ini sangat cocok untuk wilayah seperti Kecamatan Jaken adalah sifatnya yang lebih toleran terhadap kekeringan. Kamelan menjelaskan bahwa banyak petani yang selama ini masih terpaku pada varietas lama seperti Inpari 32, padahal Inpari 43 menawarkan produktivitas yang jauh lebih tinggi.
“Memang belum banyak yang mengenal inpari 43 biasanya masih pakai inpari 32. Ini tentu bisa menjadi alternatif benih padi yang bisa dimanfaatkan para petani. Seperti dari hasil panen terlihat jenis inpari 43 hasilnya lebih banyak sekitar 30 persen dibandingkan jenis lain,” terang dia.
Kamelan juga optimis bahwa angka produksi ini masih bisa dikatrol lebih tinggi jika ditanam pada lahan yang memiliki sistem irigasi teknis yang baik. Selain produktivitas, varietas ini memiliki masa tanam yang efisien, yakni hanya sekitar 111 hari sejak masa semai. Karakteristik batangnya pun kuat sehingga tahan rebah dan memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan jamur.
“Ada sejumlah kelebihan lain dari jenis ini. Usia tajamnya hanya sekitar 111 hari dari mulai semai. Kemudian tahan rebah serta lebih tahan jamur,” terang dia.
Kualitas Beras Pulen dan Perawatan yang Mudah
Dari sisi ekonomi dan kualitas konsumsi, Inpari 43 juga tidak kalah bersaing. Kamelan memaparkan bahwa harga jual gabah ini di pasaran relatif stabil dan setara dengan jenis padi lainnya. Bentuk bulir padinya memiliki ciri khas yang ramping, yang seringkali menjadi preferensi bagi pedagang beras.
“Untuk tekstur berasnya juga pulen,” tambah dia.
Baca juga: Diserang Tikus, Petani Jagung Wukirsari Pati Rugi hingga Rp10 Juta per Hektare
Bagi para petani, kemudahan dalam proses budidaya tentu menjadi pertimbangan utama. Menariknya, Inpari 43 justru disebut lebih sederhana dalam hal pemeliharaan. Kamelan menegaskan bahwa meskipun statusnya adalah varietas yang relatif baru bagi sebagian besar petani di Pati, perawatannya tidak menuntut perlakuan yang rumit.
“Untuk perlakuan varietas baru justru jauh lebih mudah,” imbuh dia. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin














