LINIKATA.COM, PATI – Nasib malang menimpa warga Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Belum sempat menghela napas panjang setelah membersihkan sisa banjir, permukiman mereka kembali terendam banjir pada Kamis (5/2/2026) sore.
Kondisi ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Pati sejak Selasa (3/2/2026) lalu, diperparah dengan jebolnya tanggul Sungai Jawik di Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Air dari tanggul yang jebol tersebut mengalir ke Sungai Silugonggo dan meluap ke permukiman warga.
Kronologi Banjir Susulan di Mintobasuki
Padahal, genangan air di Desa Mintobasuki baru benar-benar surut pada Rabu (4/2/2026) setelah sebelumnya merendam wilayah tersebut selama 25 hari. Namun, ketenangan warga hanya bertahan kurang dari 24 jam.
Baca juga: Tanggul Sungai Jawik Jebol, Desa Pladen Kudus Terendam Banjir Semeter
Sukar, salah satu warga terdampak, menuturkan bahwa air mulai masuk ke rumahnya dengan ketinggian yang bervariasi. Di area pemukiman, air mencapai 20-50 cm, sementara di dalam rumah warga, air menggenang setinggi 5-10 cm.
“Ini rumah kebanjiran lagi. Baru kemarin. Banjir akibat tanggul sungai di Kudus jebol,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (6/2/2026).
Sulit Surut Akibat Debit Sungai Silugonggo
Proses surutnya air di Desa Mintobasuki memang dikenal memakan waktu lama. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis dan tingginya debit air di Sungai Silugonggo yang menjadi muara pembuangan air.
Sukar menjelaskan bahwa rumahnya baru saja selesai dibersihkan dari sisa banjir panjang sebelumnya.
“Kemarin sempat surut. Satu hari rumah baru dibersihin, terus naik lagi,” katanya.
Menurutnya, penurunan permukaan air biasanya terjadi sangat lambat.
“Surutnya sedikit sedikit. Setiap hari 5 cm, 5 cm, sekitar satu minggu lah surutnya itu,” ujar Sukar.
Baca juga: Sambut Imlek, Kelenteng Hok Tik Bio Pati Gelar Pengobatan Gratis untuk Korban Banjir
Harapan Warga kepada Pemerintah
Menghadapi siklus banjir tahunan yang seolah tak kunjung usai, warga mengaku hanya bisa pasrah. Meski demikian, mereka tetap menaruh harapan besar agar pemerintah daerah maupun pusat segera menemukan solusi permanen, seperti normalisasi sungai atau penguatan tanggul secara menyeluruh.
“Harapannya gimana, wong sudah tempatnya. Tinggal pemerintahan yang mikir, mengatasinya gimana,” sebut Sukar. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














