LINIKATA.COM, PATI – Warga Kelurahan Kalidoro, Kecamatan/Kabupaten Pati hanya bisa pasrah saat banjir kembali menggenangi permukiman, Sabtu (10/1/2026). Air bah itu seperti sudah punya jadwal tahunan untuk menyambangi mereka.
Menurut penuturan warga, banjir sudah rutin sejak 1993. Selama puluhan tahun itu, pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya, tapi tak cukup sukses membendung datangnya bencana.
Salah satu warga terdampak, Lilih, mengatakan, banjir sudah menjadi peristiwa yang berulang sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kali ini banjir menggenangi dua RT di dua RW.
Baca juga: Seratusan Rumah di Doropayung Pati Kebanjiran, Ketinggian Semeter Lebih
“Saya mengalami banjir dari kecil, sejak tahun 1993 sampai 1995 waktu masih SD, sampai sekarang sudah punya anak masih banjir terus,” keluh warga RT 01 RW 01 Kelurahan Kalidoro itu, Senin (12/1/2026).
Dengan kondisi banjir tersebut, ia bersama satu keluarganya terpaksa mengungsi ke Masjid Jami’ Rohmanti An Nur. Di sana, ada sekitar 250 warga dari dua RW yang mayoritasnya merupakan kelompok rentan, termasuk lansia.
“Alhamdulillah barang-barang vital seperti elektronik dan motor bisa diselamatkan,” katanya.
Menurutnya, meski berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah seperti pengerukan sungai, pembangunan jembatan, hingga tanggul, banjir masih terus terjadi.
“Melawan alam memang mustahil, tapi setidaknya ada solusi. Sudah dibuat tanggul pun masih jebol. Dari bantaran sungai Yaik sampai Kembang Joyo kondisinya masih sama,” pungkas Lilih.
Sekretaris Kelurahan Kalidoro, Agung Gumelar, menjelaskan, proses evakuasi telah dilakukan sejak banjir pertama terjadi atau Jumat (9/1/2026).
Baca juga: Banjir Glonggong Pati: 1 Km Jalan Terendam, Ketinggian di Permukiman Capai 1 Meter
“Sejak satu minggu yang lalu, tepatnya Jumat malam, kami sudah mulai mengevakuasi warga. Sekitar pukul 22.00 WIB kami mengevakuasi dua orang lansia langsung dari rumahnya. Saat itu air sudah setinggi perut,” ujar Agung.
Menurutnya, di lokasi pengungsian pihaknya sudah menyiapkan kebutuhan dasar, terutama untuk lansia. Ada obat-obatan seperti amoksilin, obat gatal, obat batuk, obat asma, serta air, beras, dan susu. Bantuan sebagian berasal dari BPD.
“Yang sangat kami butuhkan saat ini adalah nasi bungkus. Karena banjir bertambah, warga tidak bisa memasak, kompor mereka masih terendam. Idealnya nasi bungkus tiga kali sehari untuk sekitar 200 sampai 250 orang,” katanya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














